Kerja Manual, Petambak Udang Paname Kantongi Omzet Puluhan Juta – Fajar Sultra
News

Kerja Manual, Petambak Udang Paname Kantongi Omzet Puluhan Juta

Petambak udang saat menceritakan suka duka dalam memulai kegiatan usahanya pada Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sultra serta perwakilan Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

Petambak udang saat menceritakan suka duka dalam memulai kegiatan usahanya pada Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sultra serta perwakilan Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

BUDIDAYA udang vaname bagi Daeng, warga Desa Tanjung Bunga , Kecamatan kecamatan Lembo jauh lebih prospektif ketimbang budidaya ikan. Hal itu yang membuatnya mencoba untuk menekuni budidaya udang vaname. Dari pekerjaannya itu, Daeng bisa meraup omzet puluhan juta.

Daeng merupakan nelayan yang memulai peruntungannya dengan membuat tambak belum lama ini. Tambak yang menjadi andalannya yakni berukuran kurang lebih 1.000 meter persegi. Tambak miliknya itu dikerjakan secara manual.

Dilahan yang baru dibuka itu, dirinya lebih memilih menebar udang ketimbang memilih ikan bandeng. Ini disebabkan masa panen udang vaname tak butuh waktu yang lama, yakni berkisar 50-60 hari saja.

Perawatan udang ini juga tidak begitu rumit. Selain itu risiko mati udang vaname ini tidak terlalu besar. Hanya saja berada diatas resiko ikan bandeng.

“Kalau udang ini tidak rumit-rumit amat. Beda dengan ikan bandeng yang butuh perawatan dan waktunya yang lama. Resiko matinya yakni 25 persen. Sedangkan untuk ikan bandeng, resikonya 15 persen,” katanya.

Metode yang digunakan oleh Daeng adalah metode alami. Udang yang dibudidaya ini disebar begitu saja dan tinggal diberikan pakan. Metode ini tidak terlalu mahal dibanding dengan metode semi intensif.

Dari metode alami itu, Daeng telah sekali panen udang vaname miliknya terjual Rp 80.000 per kilo. Dimana dalam sekilo ada delapan ekor. Udang-udangnya inipun di pasok dipasar-pasar.

“Panen kemarin, karena baru sekali panen, dari metode alami saya dapatkan Rp 50 juta. Modal saya dari penyediaan bibit hingga pakan Rp 11 juta,” katanya.

Untuk pengadaan bibit ini, Daeng langsung mengambilnya dari Bali dan Jepara. Bibit dari dua daerah ini diketahuinya memiliki keunggulan. Karena keterbatasan modal, pengadaan bibit itu apa adanya.

“Isi tambak saya ini bukan udang vaname saja, tapi saya juga campur dengan udang black tiger. Meski saya tahu kalau black tiger ini predator. Hanya saja saya ingin melihatnya saja bagaimana keberhasilannya nanti,” ucapnya.

Kendala yang dihadapinya saat ini bahwa semua pekerjaannya dikerjakan secara manual. Sehingga prosesnyapun dilakukan dengan alami. Cukup menebar dan membiarkan sampai waktu panen. Tapi tetap memberikan makanan.

Dengan waktu yang singkat itu, dalam setahun Daeng bisa melakukan empat kali panen. Praktis, dalam setahun nantinya Daeng bisa mengantongi omzet hingga ratusan juta.

“Kalau menambak ini tidak ada kata rugi. Hanya saja untung yang tidak bisa banyak,” ucapnya.***

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top