Sebagai Ungkapkan Rasa Syukur kepada Tuhan dan Ajang Mencari Jodoh – FAJAR Sultra
News

Sebagai Ungkapkan Rasa Syukur kepada Tuhan dan Ajang Mencari Jodoh

3-Feature-Tunuha-1024x576

♦ Melihat Tradisi Tunuha di Muna

PERNAH anda mendengar makanan Tunuha? di Sulawesi Tenggara, makanan ini kemungkinan hanya ada di Pulau Muna dan Pulau Buton, khususnya Kabupaten Muna dan Muna Barat. Kuliner khas dari ubi kayu ini dimasak dengan proses tradisional yang dibakar di dalam tanah. Di tengah gempuran makanan cepat saji seperti KFC, Texas Cicken atau MC Donal, makanan ini masih menjadi idola masyarakat Muna.

La Lele, perlahan-lahan memasukan batu-batu ke dalam tanah yang sudah dia gali. Lalu dia menyusun kayu tepat di atas batu itu hingga menyerupai jembatan. Kayu kemudian dibakar hingga menyisakan arang. Bisa jadi suhunya mencapai 2.000 derajat celcius.

Batu-batu di dalam tanah menghasilkan panas tinggi. La Lele perlahan memasukan tunuha yang sudah disiapkan sebelumnya. Tapi, dia harus hati-hati. Panas batu yang membara bisa membakar tangan, dia harus memisahkan batu menggunakan cangkul atau sekopang. Setelah itu, racikan tunuha dimasukan, lalu ditutup kembali menggunakan batu. Terakhir menggunakan tanah, hingga tak ada asap yang keluar.

Proses pengeluaran tunuha dari dalam tanah.

La Lele adalah salah seorang masyarakat Muna di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna yang masih menjaga tradisi memasak tunuha. Dulu, memasak tunuha adalah ungkapan rasa syukur kepada tuhan atas hasil panen yang melimpah. Namun sekarang, dijadikan bisnis. Hasil tunuha, di jual ke berbagai pasar-pasar tradisional di Kabupaten Muna. Terutama pasar-pasar kecamatan, yang hanya buka tiga hari sekali.

Tunuha adalah bahasa Muna. Artinya pembakaran. Sesuai arti, makanan tunuha dihasilkan dari proses pembakaran. Uniknya, pembakaran dilakukan secara terpisah. Batu dulu dibakar menggunakan kayu hingga panas mencapai kira-kira 2000 derajat celcius. Lalu kemudian tunuhanya ditimbun dalam bara batu itu. Harus menunggu satu malam untuk melihat tunuha matang, sebelum disantap.

Pada umumnya, tunuha berasal dari ubi kayu yang diparut dan dicampur dengan gula merah dan bawang merah. Biasa juga dicampur parutan kelapa. Setelah itu, campuran dari bahan makanan ini dimasukan dalam bambu atau tempurung kelapa yang ditutupi daun pisang. Racikan inilah yang disimpan dalam tanah galian dan ditutupi dengan batu yang dibakar hingga panas dalam waktu satu malam.

Sepintas, pembuatan tunuha terlihat mirip dengan proses pembuatan nasi bambu. Hanya saja, bahan dasar berbeda. Nasi bambu menggunakan ketan sebagai bahan dasar, sementara tunuha menggunakan ubi kayu sebagai bahan dasar yang dicampur dengan gula merah.

Tunuha biasa dijadikan cemilan yang masih disukai sebagian besar masyarakat Muna. Dengan proses pembuatanya yang sangat tradisional tanpa menggunakan bahan pengawet, makanan yang satu ini bisa bertahan hingga 1 minggu dan menjadi makanan sehat karena semua proses pembuatanya dilakukan secara alami.

La Lele mengaku, membuat tunuha karena dilakukan secara turun temurun. Untuk membuat tunuha warga melakukanya secara gotong royong mulai dari melakukan pengumpulan batu, kayu hingga dedaunan yang akan digunakan dalam proses pembuatan tunuha. Meskipun pembuatanya memakan waktu hingga satu hari, namun hal tersebut tidak meyurutkan semangat para warga. “Pembuatan Tunuha tidak dilakukan hanya sendiri-sendiri tetapi dikerjakan secara gotong royong, sehingga semua terasa ringan,” ucapnya.

Zaman dulu, acara tunuha, selain ungkapan rasa syukur kepada yang maha kuasa, juga dijadikan sebagai ajang mencari jodoh. Biasanya, kaum muda dan mudi membuat tunuha sambil menari. Orang Muna pada umumnya menari ini disebut modero. Setiap lelaki yang memiliki hasil panen singkong yang melimpah dan akan melakukan ritual ini, maka wajib mengundang kaum perempuan untuk mengikutinya.

Modero inilah sebagai ajang pencarian jodoh. Modero dilakukan satu malam sambil menunggu tunuha matang. Laki-laki berpegangan tangan dengan laki-laki. Sebaliknya, perempuan berpegangan tangan pula sesama perempuan. Lalu, dua kelompok ini bernyanyi bersama mengelilingi area tunuha, sambil berbalas pantun.

Disinilah uniknya berbalas pantun itu. Kadang-kadang pantun yang dinyanyikan mengisyaratkan tingkah laku kaum laki-laki dan perempuan. Bahkan ada juga yang kecantol menjadi jodoh yang saling berbalas pantun. (***)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top