Lebih Empat Dekade Baru Dapat Surat Nikah – Hacked by TryDee
News

Lebih Empat Dekade Baru Dapat Surat Nikah

♦ Kisah Wasilah Rumah Tangga Laode Ole

Pernikahan merupakan salah satu ritual yang sangat sakral dalam kehidupan manusia beragama. Pernikahan merupakan pengikatan janji nikah yang dilaksanakan oleh pria dan wanita dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan. Kaum muslim di Indonesia wajib mendapatkan pengakuan dua hukum sekaligus untuk resminya sebuah pernikahan, yakni berdasarkan kompilasi hukum Islam kemudian dilanjutkan dengan hukum positif yang berlaku

Penikahan berdasarkan kompilasi hukum Islam adalah menyatukan wanita dan laki-laki yang ditandai dengan ucapan Ijab Qobul atau yang kerap disebut dengan akad nikah serta beberapa peraturan yang diwajibkan dalam Islam.

Pernikahan pada sisi ini lebih merujuk pada perjanjian pria dan wanita di hadapan Allah SWT. Sedangkan menikah yang diakui oleh hukum positif merupakan pernikahan yang diakui oleh negara dan ditandai dengan palu sidang isbath, lalu bukti buku nikah yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Selain dua sisi tersebut, pernikahan juga sering digelar dengan prosesi adat yang variatif karena perbedaan adat di berbagai daerah.

Namun hal yang cukup berbeda dijalani oleh pasangan Laode Ole (71) dan Wa Maane (60), Warga Kelurahan Rahandouna Kecamatan Poasia Kota Kendari, yang telah melangsungkan pernikahan sejak 1969 atau sekira 47 tahun silam. Pasangan ini hanya melangsungkan pernikahan berdasarkan kompilasi hukum Islam yang dikemas dalam prosesi adat di Kabupaten Muna.

Laode Ole (71) dan Wa Maane (60),

Pasangan ini kemudian pindah di Kota Kendari tahun 1982 dan menetap di alamat mereka tempati saat ini. Dalam perjalanan pernikahan mereka di karuniai 12 anak. Namun empat dari anak mereka meninggal dunia sehingga menyisakan delapan orang saat ini. Pasangan ini juga memiliki 20 orang cucu. Pasangan ini mejalani pernikahan selama 47 tahun tidak mendapatkan pengkuan dari negara. Tidak ada buku nikah dan tidak ada akta kelahiran untuk anak-anak mereka.

Laode Ole dan Wa Maane, tidak bermaksud melanggar hukum atau ketentuan mutlak yang di berlakukan bangsa ini melalui hukum positif. Tidak ada buku nikah karena keduannya memiliki keterbatasan kecakapan intelektual. Mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan dalam upaya mengadakan buku nikah. selain itu, masalah kuangan yang hanya cukup untuk makan sehari-hari membuat mereka selalu mengrungkan niat, tiap kali berkeinginan mengurus buku nikah.

“Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan untuk mengurus buku nikah. Kemdian saya dengar mahal biaya bikinya,” ungkpanya, saat ditemui di sela sidang isbath nikah terpadu, di Kantor Camat Poasia Kendari.

Selama menikah, mereka mendapatkan buku nikah setelah ada program Sidang Terpadu Pemenuhan Identitas Isbath Nikah, Buku Nikah dan Akta Kelahiran untuk Masyarakat Kota Kendari, yang di gelar Pemerintah Kota Kendari dan Kementerian Agama Kota Kendari, Jumat (4/11) di Kantor Camat Poasia. Buku nikah ini diberikan secara gratis untuk 101 pasangan yang telah terdaftar.

Pasangan yang sehari-hari berkerja sebagai petani tersebut juga mengakui, selama ini mereka memiliki kesulitan ketika berurusan di intansi pemerintah. Mereka bahkan tidak terdata sebagai warga Kota Kendari karena tidak memilik kartu keluarga kandisi itu juga dialami oleh anak-anak mereka.

Laode Ole dan istrinya, merasa sangat bahagia saat menerima buku nikah dan akta kelahiran yang di berikan oleh pemerintah. Hal yang selama ini hanya terlintas dalam fikiran dapat terwujud dengan mudah atas pelayanan maksimal yang diberikan oleh pemerintah. Mereka juga merasa lega dan terhindar dari rasa was-was karena pernikahan mereka telah diakui oleh negara.

“Saya sangat senang. Trimaksih untuk Pemerintah Kota dan Kementerian Agama. Terimakasih juga untuk kepala RT yang sudah memanggil saya untuk ikut acara ini,” tutupnya. (*)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top