Dua WNI Asal Buton Diculik Perompak Bersenjata – FAJAR Sultra
News

Dua WNI Asal Buton Diculik Perompak Bersenjata

0-dua-wni-nahkoda-kapal-kembali-diculik-di-perairan-sabah

KENDARI, RSONLINE – Penculikan bersenjata api kembali memakan korban warga Sultra, kali ini dua WNI asal Buton menjadi korban penculikan di Malaysia. Keduanya diketahui bekerja di dua kapal nelayan milik warga Malaysia.

Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara melalui Kepolisian Resor Buton saat ini tengah melakukan upaya pencarian terkait identitas kedua warga Buton. Sebelumnya kedua orang yang bekerja di dua kapal Malaysia tersebut diculik oleh kelompok tidak dikenal di perairan Malaysia.

Kapolres Buton Ajun Komisaris Besar Polisi Andi Herman SIK menuturkan, awalnya dirinya mengetahui adanya penculikan kedua warga Buton tersebut sesudah melihat pernyataan resmi dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/11/2016) di media.

Salah satu kapal yang dinahkodai WNI yang diculik perompak bersenjata di Malaysia. FOTO: Kemenlu RI.

Saat ini, lanjutnya ia bersama Personilnya terus melakukan penelusuran terkait keberadaan keluarga kedua orang itu di Buton.

“Kita lagi sementara telusuri, terkait keberadaan domisili rumah atau keluarga kedua korban. Wilayah butonnya tidak jelas, Buton Utara, Tengah, selatan atau buton Induk,” kata Andi Herman.

Mantan Kepala Bagian Pembinan Operasional (Kabagbinops) Biro Operasional (Roops) Polda Sultra ini mengatakan, sampai tadi malam belum ada keluarga korban atau pihak-pihak yang melaporkan terkait penculikan itu kepada kepolisian.

“Selain kita menelusuri, kami juga mengimbau masayarakat utamanya keluarga korban, atau yang mengenal kedua korban untuk melapor segera ke Polres atau Polsek-Polsek terdekat,” tuturnya.

Sementara di Jakarta, Menteri Luar Negeri Retno, menuturkan, terkait penculikan dua WNI, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan KJRI Kota Kinabalu dan KJRI Tawao.

“Kita sudah bergerak untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas, dan juga melakukan koordinasi dengan otoritas setempat,” terangnya.

Retno mengatakan dirinya juga terus mencari informasi yang lebih rinci terkait penculikan tersebut. Menlu mencari informasi kepada pihak keamanan Malaysia, terutama pada pemilik kapal dan 6 ABK yang berhasil lolos dari penculikan.

Pihaknya juga mengimbau para anak buah kapal (ABK) dari WNI di perairan Sabah, Malaysia tidak melaut hingga kondisi kondusif, usai penculikan terhadap dua orang kapten kapal di kawasan tersebut.

“Pemerintah Indonesia telah mengimbau para ABK Warga Negara Indonesia (WNI) di Sabah untuk sementara waktu tidak melaut sampai situasi keamanan dipandang kondusif,” kata Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir di Jakarta, Minggu.

Dua WNI pada hari Minggu kemarin sekitar pukul 11.00 waktu setempat, diculik saat sedang menangkap ikan di wilayah terumbu Pengarus Perairan Kertam sekitar 13-15 mil laut dari muara Kuala Kinabatangan Negeri Sabah, Malaysia.

Keduanya adalah La Utu bin La Raali dari kapal SSK 00520F, dan La Hadi bin La Adi dari kapal SN 1154/4F. Mereka berasal dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara.

“Keduanya adalah WNI yang bekerja secara legal di kapal penangkap ikan Malaysia, tapi belum diketahui siapa penculiknya,” tambah Arrmanatha, selaku juru bicara Kemenlu RI.

Menurut laporan yang diterima staf Konsulat RI di Tawau, Malaysia, Johan Mulyadi, ada satu “speedboat” berwarna abu-abu menghampiri kedua kapal tersebut dan merampok serta menculik kapten kapal. “Speedboat” itu berpenumpang 4-5 orang yang membawa senjata laras panjang.

Selanjutnya para penculik terlihat menuju wilayah Tawi-Tawi, Filipina bagian Selatan.

“KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau sudah berkoordinasi di Sandakan, untuk mendapatkan informasi lebih rinci mengenai kejadian tersebut. KRJI berkoordinasi dengan pihak keamanan Malaysia, pemilik kapal dan ABK yang dilepas,” ungkap Arrmanatha.

Ada enam WNI yang selamat dari penculikan tersebut.

“Menteri Luar Negeri RI pagi tadi juga telah berbicara langsung dengan Menlu Malaysia untuk menyampaikan keprihatinan Indonesia mengenai kembali terjadinya penculikan dan penyanderaan di perairan Sabah Malaysia. Kami juga meminta pemerintah Malaysia untuk membantu pembebasan,” tambah Arrmanatha.

Menlu Retno Marsudi menurut Arrmanatha pun telah bicara dengan penasihat perdamaian Presiden Filipina untuk berkoordinasi mengenai hal ini.

“Sejak beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia telah menyampaikan keprihatinan kepada Pemerintah Malaysia terhadap situasi di perairan Sabah, mengingat terdapat sekitar 6.000 WNI yang bekerja di kapal ikan Malaysia di wilayah tersebut,” tambah Arrmanatha.

Sementara, Komandan pasukan keamanan Sabah Timur Datuk Wan Bari Wan Abdul Khalid, mengatakan penculikan dua WNI terjadi di wilayah yang berjarak beberapa mil laut dari Sungai Kinabatangan.

Lokasi diculiknya kedua orang tersebut dikenal dengan sebutan karang Pegasus.

“Dalam insiden pertama, lima orang bersenjata dengan speed boat naik ke kapal nelayan dan menculik kapten kapal berusia 52 tahun,” kata Wan Bari.

“Mereka meninggalkan dua awak berusia 47 tahun dan 35 tahun di atas kapal,” ujarnya.

Wan Bari mengatakan, orang-orang bersenjata tersebut kemudian melarikan diri ke arah perairan internasional, setelah aksi penculikannya berhasil. Tak lama setelah peristiwa pertama, mereka berhasil menculik seorang kapten kapal lain asal Indonesia yang jaraknya tiga mil laut dari lokasi penculikan yang pertama. (ant-int-p2/b/*)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top