Ribuan Orang Mengantungkan Hidup Dibutiran Pasir Pohara – Fajar Sultra
News

Ribuan Orang Mengantungkan Hidup Dibutiran Pasir Pohara

♦ Pasir Pohara seperti Mutiara

SETIAP HARINYA, kendaraan truk berbagai jenis tak henti-hentinya melintas dipintu perbatasan Puwatu, mengangkut butiran-butiran pasir, sebagai material utama campuran semen tersebut. Kini pasir pohara sudah menjadi mutiara bagi kebanyakkan orang, ada banyak nyawa yang mengantungkan hidupnya dari pasir tersebut.

Masih sangat pagi, ketika embun yang biasanya menutup jarak pandang belum juga hilang seiring datangnya mentari pagi, Om Bio nama sapaannya, sudah memanasi mesin truknya yang ada disamping rumahnya.

Hari Minggu kemarin, dirinya sudah mendapatkan beberapa order pengangkutan pasir pohara dari kota Kendari, dirinya diminta mengantarkan pasir pohara kesejumlah tempat di kota Kendari.

Om Bio sendiri (55) tinggal disekiar pasar Sampara, sudah sejak tujuh tahun lalu mengeluti bisnis pasir pohara, pekerjaan ini telah menjadi andalan utamanya menghidupi istri, anak-anaknya dan beberapa cucunya.

Ribuan Orang Mengantungkan Hidup Dibutiran Pasir Pohara

Kepada penulis, dirinya menuturkan, sebelumnya ia adalah mandor di pasar, namun karena melihat pekerjaan sebagai mandor kurang mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, dirinya kemudian beralih pekerjaan. Dirinya kemudian mencoba berbisnis pasir pohara, karena melihat permintaan pasir pohara dari kota Kendari cukup besar sekali. Apalagi ditambah, orang-orang yang bekerja menambang pasir di sungai pohara, juga banyak dikenalnya.

Awal mengelutinya dengan mencoba mencarikan pasaran atau pembeli pasir dari pasir-pasing yang sudah ditambang penambang pasir. Setiap satu kubik laku terjual, dirinya baru mendapatkan uang, tetapi baginya uang tersebut terbilang kecil.

Menjadi ‘tenaga pemasar’ baginya akan sulit untuk meningkat. Apalagi, harus bersaing dengan banyak orang yang juga mengeluti bisnis pasir pohara, belum lagi banyak pembeli yang tidak mau memakai jasa perantara, dan memilih langsung ketemu dengan pemilik pasir. “Katanya kalau beli langsung harganya bisa lebih murah,” kenangnya.

Setelah melihat kondisi yang kurang menguntungkan baginya. Dan melihat peluang emas di pasir pohara ada dipengangkutan, ia kemudian memberanikan diri mencicil sebuah truk. “Saya kasi keluar truk dengan mencicil, dari modal patungan dengan anak-anak saya,” sebutnya.

Truk inilah yang menjadi alat utama berbisnis pasir, ia sendiri tak menyewa jasa orang menjadi sopir truk miliknya, namun ia sendiri yang membawanya. “Ini truk masih dicicil, nanti lunas baru saya carikan sopir, selama belum lunas saya bawa sendiri, masih satu tahun lagi luas” sebutnya.

Baginya, pasir pohara sudah menjadi ’emas-permata’ bagi keluarganya. Dari butiran-butiran pasir pohara yang diangkat dari dasar sungai konawe itu, yang dalamnya hingga tujuh meter itu, ada ribuan keluarga mengantungkan hidup, salah satunya adalah dirinya.

Meski dirinya bukan penambang pasir, namun dirinya bekerja keras menjual pasir pohara yang dibelinya ke warga kota. Kini bisnis pasir yang digelutinya selain bisa menghidupi keluarganya, cicilan truk yang akan lunas tahun depan juga bayarnya perbulan.

Dalam setiap harinya, selalu ada pembeli yang meminta diturunkan pasir pohara, terutama dari kota Kendari, diakuinya persaingan dalam bisnis pasir cukup ketat. Karena dirinya berupaya keras untuk tidak mengecewakan pelanggan, seperti ketika pesanan telah diminta, dirinya harus tetap waktu, jika tidak pembeli akan pindah ke orang lain.

“Kita telah saja antar setengah jam, orang sudah mengomel, ini yang saya jaga,” ujarnya. Namun terkadang, lanjutnya, pembeli juga tidak mengerti, karena untuk mengangkut pasir, butuh waktu untuk menaikannya kedalam truk.

Dirinya berharap, jika truk yang dicicilanya telah lunas, dirinya akan kembali membeli truk, sebab permintaan pasir pohara cukup besar, seiring dengan perkembangan kota Kendari saat ini. **

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top