Sarman Warga Buton, Korban yang Selamat dari Penculikan – FAJAR Sultra
News

Sarman Warga Buton, Korban yang Selamat dari Penculikan

♦ 10 Tahun Merantau, Sudah Dua Kali Diculik Kelompok Bersenjata

KENDARI, RSONLINE – Salah satu korban penculikan warga asal buton oleh perompak bersenjata, di wilayah terumbu Pengarus Perairan Kertam, Malaysia, Minggu kemarin atas nama Sarman (35).

Dirinya merupakan salah satu dari enam ABK yang berhasil menyelamatkan diri dari perompak bersenjata. Sementara kapten kapalnya diculik, berasal dari Kaledupa Wakatobi, bukan dari Buton sebagaimana yang diumumkan Menlu RI.

Bagi Sarman kejadian pencilikan sudah pernah dialaminya sekitar tahun 2000. Saat itu, ia bersama rekan-rekan kerjanya sedang mencari ikan di sekitar Perairan Sabah, Malaysia. Saat larut malam, mereka dihampiri kelompok bersenjata lalu dibawah ke sebuah Pulau yang tak berpenghuni. Setelah beberapa hari disekap di Pulau tak berpenduduk tersebut, bersama teman-temannya kemudian dibebaskan, tanpa tahu sebab dan alasannya.

Foto Korban Sarman bersama istrinya.

Hal tersebut diceritakan Sarman kepada adik kandungnya Putri Melati yang tinggal di Pasar Wajo Buton, sehari setelah dirinya berhasil lolos penculikan perompak bersenjata.

Pengalaman mengerikan itu, membuatnya tak menyurutkan untuk kembali melaut. Merantau dan bekerja sebagai pelaut di Malaysia adalah pilihannya, untuk menghidupi keluarganya di Pasarwajo, Kabupaten Buton.

Kepada koran ini, kakak kandung Sarman menceritakan, sehari setelah kejadian itu, Sarman langsung menghubungi kedua orang tuanya dan istrinya yang tinggal di Lajangpaka, kelurahan Pasarwajo, Buton.

Dirinya (Sarman) mengabarkan kondisinya dalam keadaan sehat dan baik, namun nahkoda kapalnya warga Kaledupa dibawa pergi perampok, dan belum ditemukan hingga kini.

Saat ini, dirinya sudah berada di Sabah, Malaysia, di pangkalan kapal tempatnya kerjan. “Saya sehat jangan panik, mama, istriku dan anak-anakku, jaga kesehatan,” cerita Putri mendengarkan percakapan dengan kakak kandungnya di telpon, kemarin.

Sarman juga menceritakan, kejadian perompakan terjadi, awalnya seperti biasa, ia bersama teman-temannya sedang mencari ikan di laut. Saat hendak menarik jaring, tiba-tiba datang sebuah kapal speedboat berpenumpang 4-5 orang membawa senjata laras panjang, dan mengancam mereka dengan senjatanya.

Dari tiga orang temannya yang berada diatas kapal, satu orang berhasil diculik dengan todongan senjata yakni nahkoda kapal atas nama La Utu, sedangkan ia bersama temannya sesama ABK masih berada dibawah perahu. Mereka kemudian dilepas dan langsung membawah kapalnya menuju daratan untuk meminta tolong. Sedangkan nahkoda kapal dibawa pergi.

Saat diatas kapal, perompak mengambil barang-barang milik korban seperti HP, uang dan pakaian. Selanjutnya, para penculik terlihat menuju wilayah Tawi-Tawi, Filipina bagian Selatan dengan membawa dua nahkoda kapal yang juga berasal dari Buton.

“Sementara kedua korban yang diculik belum diketemukan, kita coba hubungi melalui sambungan telpon tidak aktif,” kata Sarman sebagaimana diceritakan adiknya.

Atas kejadian itu, pihak keluarga meminta Sarman untuk kembali ke kampung halamannya di Buton, meski hanya sementara.

Putri Melati menceritakan, kakaknya mengadu nasib ke Negeri tetangga Malaysia sejak sebelum menikah dan masih remaja. “Sudah sekitar 10 tahun lebih ia ke Malysia, sekitar tahun 2000 an, saat itu masih muda dan lajang, belum punya istri,” katanya.

Dikalangan keluarga, Sarman dikenal sosok yang baik hati dan bertanggungjawab. “Setiap bulan kalau masih muda, suka kirimin saya uang. Sekarang sudah menikah, ia kirim uang juga untuk orang tua dan istrinya atas nama Satria dan ketiga anaknya,” tuturnya.

Tahun 2015, Sarman pernah kembali kekampung halamannya menemui kedua orang tua, istri dan ketiga anaknya. Saat ini ia memutuskan untuk ke Malaysia, melaut, mencari ikan.

“Kakak saya itu tiap dua tahun balik untuk tengok keluarga, bahkan pada bulan 12 tahun 2016 ini ia akan kembali kekampung,” pungkasnya.

Selama di Malysia, Sarman mampu menghidupi kedua orangtuanya, istri dan anaknya. Bahkan ia membangun rumah dari hasil melaut di Malaysia.

Sayangnya, keluarga dikagetkan dengan kabar Sarman dan rekan-rekannya diculik saat sedang menangkap ikan di wilayah terumbu Pengarus Perairan Sabah, Malaysia, Minggu (6/11) kemarin sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

“Awalnya kami kaget dan panik setelah ada keluarga di Malaysia menelpon bahwa Sarman telah diculik,” terang Putri. Keluarga di Buton kemudian terus mencari tahu. Tiba-tiba pihaknyadapat mendapatkan informasi bahwa Sarman bersama kelima orang temannya selamat, Sarman kemudian menelpon langsung dan menceritakan keadaannya.

Sementara itu, Kapolres Buton Ajun Komisaris Besar Polisi Andi Herman SIK menyampaikan, kedua korban yang masih disandera kelompok bersenjata beralamat di Desa Ambeua dan desa Balasuna, Kecamatan Kaledupa, Kabupaten Wakatobi.

“Informasi yang kami dapat bukan di Buton tapi di Wakatobi. Itu informasi yang kami dapat dari anaknya yang bapaknya juga jadi korban disana,” kata Andi. (p2/a/ags)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top