Cerita dari Dua Keluarga Asal Wakatobi yang Diduga Disandera Abu Sayyaf, Begini…. – FAJAR Sultra
News

Cerita dari Dua Keluarga Asal Wakatobi yang Diduga Disandera Abu Sayyaf, Begini….

KENDARIPOS.CO.ID WANGIWANGI- Sudah lima hari La Hadi dan La Utu disandera perompak yang diduga kelompok Abu Sayyaf. Keluarganya di Wakatobi pun sangat resah, sebab tak ada kabar terbaru terkait kepastian dimana kebaradaan La Hadi dan La Utu. Doa bersama sering digelar dengan harapan, dua sandera kelompok Abu Sayyaf ini dapat dibebaskan secepatnya dan kembali ke tanah air dengan selamat. Komunikasi intens terbangun antara keluarga korban di Wakatobi dengan keluarga di Malaysia. Minimal empat kali dalam sehari.

Ibu dan adik La Hadi berdomisili di Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Adik La Hadi bernama La Ane bercerita, keluarga mereka kaget saat mendapat informasi jika kakaknya disandera perompak. “Saat itu (Sabtu, 5/11), saya di kebun. Tiba-tiba kakak ipar saya (istri La Hadi) menelepon sekitar pukul 14.00. Katanya, kejadiannya sekira pukul 12.00 waktu setempat,” ungkap La Ane, kemarin (8/11).

La Hadi, kata dia, berdomisili di Sandakan, Sabah, Malaysia Timur itu. Kakaknya itu bekerja pada perusahaan ikan milik warga asal Tiongkok. La Hadi bergabung di perusahaan itu sebagai nelayan udang sejak tahun 1983. “Dia (La Hadi, -red) merantau ke Malaysia tahun 1983 ikut-ikut orang. Belum cukup setahun bekerja dia, sudah dipercayakan sebagai nahkoda kapal nelayan udang hingga sekarang,” jelasnya.

keluarga-la-hadi

Pasca mendengar kabar penyanderaan itu, La Ane bersama keluarganya hanya bisa pasrah dan berdoa. Selain itu, dia selalu berkomunikasi dengan istri La Hadi bernama Nayati yang berada di Malaysia bersama keenam anaknya. “Kakak ipar saya meminta keluarga besar di sini mendoakan agar kakak saya bisa selamat dan tidak diapa-apakan. Kami sekeluarga sangat terpukul mendengar kabar ini. Kami kurang bersemangat lagi dalam menjalani aktivitas empat hari terakhir,” ujar La Ane.

La Ane menambahkan, La Hadi yang sempat mudik ke Wangi-wangi tahun 2014 saat lebaran Idul Fitri. Saat itu, La Hadi berjanji akan pulang kampung lagi bulan depan (Desember 2016). Selain bersilaturahmi, La Hadi juga akan melihat rumah yang sudah dibangunnya setahun lebih di samping rumah adiknya itu. “Komunikasi terakhir, dia ingin ke sini untuk mengunjungi keluarga dan melihat rumahnya. Apalagi saat ini masih proses membangun dan belum kelar,” katanya.

La Ane mengaku, dirinya tahu persis kondisi keluarga La Hadi di Malaysia. La Ane sempat ikut kakaknya dan melakoni aktivitas serupa selama belasan tahun di Negeri Jiran. Saat ini, La Hadi masih bersatus Warna Negara Indonesia dan masih menggunakan paspor dengan jaminan perusahaan tempatnya bekerja. “Saya pulang kampung tahun 2007, tapi kakak saya memilih untuk bertahan di sana,” tambahnya.

Sejauh ini, belum ada pihak pemerintah daerah setempat yang berkunjung ke rumah keluarga korban. Hanya dari pihak kepolisian dan koramil setempat. Meski begitu, dia tidak berharap lebih, hanya ingin sang kakak selamat dari penyanderaan itu. Ia berharap pemerintah Indonesia berusaha maksimal melakukan upaya pembebasan. Peristiwa ini merupakan kali pertama menimpa saudaranya itu. Kata La Ane ada yang aneh sebelum ini. Dirinya pernah dihubungi dengan nomor telepon La Hadi namun yang berbicara saat itu orang lain (laki-laki) yang mengaku berasal dari Sulawesi Selatan. Saat ditanya keberadaannya, lelaki itu mengaku bekerja di Felda daerah sekitar Malaysia.

Ibu La Hadi, Wa Arima (90) terlihat masih syok. Dirinya pun tidak bisa berbuat banyak. Hanya, berharap anaknya bisa lepas dari penculikan dengan kondisi selamat. Mata Wa Arima berkaca-kaca saat La Ane bercerita tentang kakaknya itu. “Saya kaget dan takut saat mendengarkan hal ini. Saya berharap anak saya tidak diapa-apakan oleh para penculik itu,” harap Wa Arima.

Selain La Hadi, La Utu bin Ra’ali, warga Desa Balasuna Selatan, Kecamatan Kaledupa juga mengalami nasib yang sama. Pria kelahiran 31 Desember 1962 itu juga sudah lama merantau di Malaysia. Di sana, ia hidup bersama isterinya yang bernama Suriani bin La Saura dan satu orang anaknya. Ternyata, ada putri La Utu yang sedang melanjutkan pendidikan pada salah satu perguruan tinggi di Sultra. Gadis itu bernama Wa Gagu. Saat dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Wa Gagu enggan berkomentar banyak. Dia mengakui bahwa korban penculikan di Perairan Malaysia itu adalah ayahnya namun dia tidak mau berbicara lebih terkait hal itu. Bahkan saat ditanyai soal itu dirinya langsung memutuskan sambungan telepon.

Kapolres Wakatobi, AKBP Didik Supranoto, SIK menambahkan, pihaknya sudah menindaklanjuti persoalan tersebut. Anggotanya sudah menemui keluarga korban. Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, kedua korban diduga disandera di Perairan Malaysia. “Awalnya kami kira warga Buton. Ternyata setelah diselidiki, eh dua-duanya ternyata warga Wakatobi. Satunya La Utu bin La Ra’ali, warga Desa Balasuna Selatan, Kecamatan Kaledupa dan La Hadi bin La Idi, warga Kelurahan Mandati III Kecamatan Wangi-wangi Selatan,” ujar Didik Supranoto.

La Utu, kata dia, merupakan anak dari pasangan La Ra’ali (almarhum) dan ibu Wa Sahibah (masih hidup). Menurutnya, anak La Utu bernama Wa Gagu telah mengetahui hal ini sejak hari pertama penculikan. “Yang bersangkutan dihubungi ibunya dari Malaysia pada Sabtu (5/11), sekita pukul 14.00. La Hadi bersama La Utu berlayar bersama selama puluhan tahun di Malaysia. La Utu pernah kembali ke Kaledupa sekitar sepuluh tahun yang lalu,” terang Didik Supranoto. (asthi)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top