Burhanuddin Belum Penuhi Panggilan Penyidik – Fajar Sultra
News

Burhanuddin Belum Penuhi Panggilan Penyidik

KENDARI – Proses penyelidikan dugaan tindak pidana pencurian ore nikel milik PT Antam kembali dimulai dengan babak baru. Kini penyidik akan memeriksa sejumlah saksi yang diduga memiliki kewenangan terkait dugaan pencurian ore nikel oleh terlapor PT Wanagon Anoa Indonesia (WAI). Diantaranya adalah Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sultra, Ir Burhanuddin MSi selaku yang berkewenangan mengurusi Izin Usaha Penambangan (IUP) PT WAI.

Sayangnya pada panggilan pertamanya, Burhanuddin masih menunda kedatangan untuk dimintai keterangan, dengan alasan masih memiliki tugas dinas sebagai Kadis ESDM di luar kota.

“Senin (21//11) rencananya pemeriksaan Burhanuddin, namun beliau ada kegiatan di luar Kota, sehingga ia meminta waktu untuk diperiksa senin depan,” kata Kasubbid II Direskrimum Polda Sultra, Kompol Agus.

Alasan ketidakhadirannya itu disampaikan langsung oleh Burhanuddin kepada Penyidik Direskrimum Polda Sultra. Atas permintaan itu kata Agus, maka Kadis yang pernah digarap oleh KPK dan Mabes Polri terkait penerbitan IUP PT AHB akan diperiksa dan dialihkan pada Senin pekan depan.

Diketahui, pemeriksaan Burhanuddin terkait dengan tumpang tindih lahan tambang milik PT Antam dan terlapor PT WAI. Saat melakukan ekspolrasi di Desa Mandiodo, Kecamatan Molawe, Konut dan ekspolitasi ore nikel diluar Sultra pada tahun 2016, diambil dari lahan 16 Ribu, yang diklaim milik PT Antam.

PT Antam mengatakan bahwa lahan tersebut masih miliknya sesui keputusan Mahkama Agung. Meskipun seperti itu PT WAI tidak menghentikan pengolahan atau pengiriman nikel karena memiliki izin dari Pemda Konut dan Dinas ESDM Sultra. Baik Pemda maupun Dinas ESDM mengindahkan keputusan MA tersebut, tidak melakukan penutupan atau pencabutan izin kepada PT WAI.

Selain Burhanuddin, Penyidik masih menanti tiga saksi lainnya yakni Pimpinan PT Wanagom Anoa Indonesia, PT Kabaena Kromit Pratahama (KKP) dan PT Century Metalindo. Jika mereka belum menghadiri panggilan klarifikasi terkait kasus itu kemungkinan Penyidik akan mengambil langkah tegas selanjutnya.

PT WAI diduga mengambil lahan PT Antam sesui dalam laporan tersebut yaitu sejak Agustus 2016. PT WAI melakukan pengiriman ore nikel dan dijual kepada PT Kabaena Kromit Pratahama (KKP). Kemudian KKP menjual ore nikel tersebut ke perusahaan smelter ternama yang berkantor pusat di Provinsi Banten yakni PT Century Metalindo.

Diketahui Pada Oktober tahun 2016 ini, PT Antam melaporkan PT WAI ke Polda Sultra dengan nomor laporan polisi 413/XI/2016/SPKT/Polda Sultra. PT WAI dianggap melakukan tindak pidana pencurian dan memasuki pekarangan tanpa izin sesuai diatur pada pasal 362 dan pasal 167 KUHP. (p2/b/put)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top