Pengedar Narkoba Lintas Kabupaten Dibekuk – FAJAR Sultra
News

Pengedar Narkoba Lintas Kabupaten Dibekuk

narkoba-lagi-41

KENDARI – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sultra menggrebek sebuah rumah di kawasan Perumahan Tumbu Runga Kompleks E3 Kelurahan Korumba Kecamatan Mandonga Kota Kendari, sekitar pukul 20.00 Wita, Selasa (23/11) malam. Dalam penggerebekan itu, tiga pengedar narkoba diamankan.

Mereka adalah SF (Inisial) warga Kelurahan Korumba diduga sebagai pengedar, NA (inisial) dan MA (inisial) diduga sebagai pemakai. Ketiganya diamankan saat sedang pesta sabu di perumahan tersebut.

Diketahui, SF merupakan pekerja tambang di Kabupaten Bombana yang diduga menjadi pengedar sabu lintas kabupaten. Aparat berhasil mengamankan empat paket sabu seberat 3,09 gram dari SF.

Kabid Pemberantasan BNNP Sultra AKBP Karim Samandi saat menunjukan barang bukti yang diamankan dari hasil penggerebekan terhadap pelaku pengedar narkoba di Kendari.

Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Sultra, AKBP Karim Samandi mengatakan, selain membekuk para tersangka dan mengamankan paket sabu, pihaknya juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang tunai RP 800 ribu, handphone, bong (penghisap sabu), paket kosong, alat isap dan enam paket sabu seberat 8,73 gram.

Karim mengungkapkan, penangkapan berawal dari informasi masayarakat sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang melaporkan terjadi pesta dan transaksi sabu.

“Pelaku SF sering bolak balik dari tempat kerjanya di Bombana ke kediamannya di Kendari. Dia ini Target Operasi (TO) kami sejak beberapa bulan ini,” kata Karim saat dikonfirmasi, Rabu (24/11) dini hari.

Setelah menerima laporan, lanjut Karim, petugas BNNP langsung melakukan penyelidikan. Upaya itu untuk memastikan para pelaku berada di kediamannya. Bahkan, petugas sempat melakukan penyamaran dan berpura-pura sebagai pembeli sabu. Upaya itu berhasail, dan para pelaku berada di lokasi.

“Saat itu kami berpura-pura membeli satu paket kecil seharga RP 300 ribu. Berawal dari situ kita amankan pelaku,” ujar mantan Kabid Humas Polda Sultra ini.

Pantauan wartawan Rakyat Sultra ketika melakukan penangkapan, aparat BNNP bersenjata lengkap memakai rompi bertuliskan BNN. Usai mengamankan dan memborgol para pelaku, mereka langsung melakukan penggeledahan di rumah berukuran type 36 itu.

Petugas BNN melakukan penggeledahan setiap sudut rumah. Hingga akhirnya mereka menemukan sejumlah alat bukti seperti bong dan alat isap termasuk enam paket kecil berisi sabu.

Dari hasil pemeriksaan terhadap para pelaku, diketahui para pelaku menjual barang haram tersebut kepada sejumlah jaringannya dipatok dengan harga bervariasi. Satu paket kecil biasanya dijual dengan harga Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu per paket.

Ketiga pelaku mengaku belum lama berbisnis sabu. Profesi sampingan itu digeluti belum genap setahun. “Belum cukup satu tahun,” kata pelaku SF.

Informasi yang dihimpun dari salah seorang tetangga SF, di kediaman itu sering terjadi pesta sabu. Sejumlah tamu yang hendak membeli atau pesta sabu sering berkunjung ke rumah SF.

“Sudah banyak yang datang dari berbagai profesi. Kadang tamu yang datang baru beberapa menit atau jam sudah keluar,” kata salah satu tetangga SF yang enggan disebutkan namanya.

Bahkan, di rumah tersebut juga dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para wanita-wanita dan pemakai sabu yang berasal dari luar Kota Kendari. Maka tak heran salah satu pemakai yang ikut diamankan malam itu MA merupakan pegawai pada Dinas Perhubungan di Kabupaten Bombana.

Dalam pengembangan yang dilakukan petugas BNNP, diketahui SF mendapat pasokan sabu dari salah seorang rekannya yang tinggal di sekitar wilayah Kampus Lama Kemaraya Kota kendari.

Namun, upaya petugas BNNP mengungkap pemasok sabu tidak berhasil. Saat penggerebekan dilakukan, pemasoknya sudah kabur lebih dulu. Hanya saja, petugas berhasil menemukan barang bukti dua paket sabu seberat 4,4 gram yang disembunyikan di belakang rumah tersangka.

Saat ini, lanjut Karim, petugas BNNP tengah mengembangkan hasil penangkapan guna mengungkap keterlibatan jaringan pelaku atau asal muasal barang haram yang didapatkan pelaku.

“Kita juga masih melakukan pengembangan mencari pelaku-pelaku lain yang diduga terlibat dalam jaringannya. Untuk lebih detailnya tunggu,” katanya.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan pasal 114 dan 127 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penajara. (*/b)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top