Kapolda Lepas Penyu Hijau di Labengki – FAJAR Sultra
News

Kapolda Lepas Penyu Hijau di Labengki

KENDARI – Kepala Kepolisian Daerah Polda Sulawesi Tenggara, Brigadir Jenderal Polisi Agung Sabar Santoso SH MH, bersama Wakapolda Kombes Pol Heru Teguh Prayetno, secara resmi melepas 14 penyu hijau ke laut, Kamis (25/11).

Pelepasan tersebut bertempat di Kawasan Pulau Konservatif Labengki, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sultra.

Kapolda dan Wakapolda Sultra melepas penyu dilindungi, disaksikan oleh seluruh instansi terkait, bertempat di Pulau Labengki, Konut, Sultra.

Pelepasan penyu hijau yang dilindungi sesuai hukum yang berlaku secara internasional ini, disaksikan oleh jajaran utama Polda Sultra, Pemkab Konut, Kejati Sultra, KKP Kendari, Syahbandar, Diknas Kehutanan, WCS Indonesia, instansi lainnya, serta sejumlah turis mancanegara maupun masyarakat.

Penyu tersebut merupakan hasil tangkapan Tim Gabungan Dirt Pol Air Polda Sultra, bertempat di Perairan Konawe Utara, tepatnya Pulau Labengki, beberapa bulan lalu.

Di hadapan sejumlah instansi dan masyarakat Labengki, Kapolda Sultra, Brigjen Pol Agung Sabar Santoso mengungkapkan bahwa puluhan ekor penyu tersebut sebenarnya hendak diperjualbelikan secara ilegal di luar Daerah, guna dikonsumsi diberbagai rumah makan.

“Penyu ini sebenarnya akan dibawah di Bali untuk dimakan, namun ditengah perjalanan kita amankan karena hendak diseludupkan secara ilegal ke Daerah lain diluar Sultra,” kata Agung.

Dikarenakan dilindungi secara hukum maka sejumlah penyu hijau tersebut dikembalikan keasalanya di Laut Labengki. Pulau Labengki merupakan surga baru bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang dulu tersembunyi, sehingga Pulau Island Labengki pas sebagai tempat konserfasi hewan laut dan tempat berkembang biaknya sejumlah Penyu tersebut.

Dihadapan Masyarakat maupun Pemkab Konut Agung Sabar Santoso mengingatkan bahwa saat ini adalah momen kita untuk bersama-sama peduli terhadap lingkungan kita, menjaga anugrah terindah yang ditawarkan Pulau Labengki saat ini.

“Indonesia peduli dengan lingkungan, apa yang kita lakukan hari ini dunia sudah tau, oleh karena itu mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk kemajuan Bangsa,” tuturnya.

Secara khusus Kapolda Sultra berpesan kepada wisatawan atau masayarakat lokal Labengki agar menjaga keindahan Pulau Labengki, sebagai kawasan berkembang biaknya hewan laut seperti Penyu. “Kawasan ini harus kita jaga bersama,Labengki ini indah sekali, mari kita dukung Pemerintah untuk mempercantik kawasan ini,” ungkapnya.

Yang akan menikmati keindahan ini adalah kita semua, maka dari itu ajak Kapolda, untuk menjaga kemanan dan ketertiban di Pulau Labengki, Konut. “Mari kita jaga bersama dan pelihara bersama apa yang telah ada di Pulau ini, ini adalah surga bagi kita semua,” pesannya.

Sementara itu Direktur Pol Air Polda Sultra Kombes Pol Andi Anugrah menceritakan pada mulanya selama ini telah melepas ratusan ekor penyu dilindungi disekitar Pulau Hari maupun Labengki.

“Sebelumnya pernah kita lepas penyu di Pulau Hari bersama instansi terkait, sekarang sekitar 14 lagi kita lepas kembali keasalanya di Pulau cantik dan indah Labengki,” kata Andi.

Menurut Andi, pelepasan penyu ini berdasarkan perintah hukum yang berlaku agar dikembalikan kehabitatnya.”Kalau tersangkanya kita sudah tangani secara hukum sesui perintah hukum itu sendiri dimana penyu ini harus kita kembalikan kehabitatnya,” terangnya.

Jika dijual diluar Daerah dikawasan pantai lanjutnya penyu tersebut dapat dijual dengan harga bervariasi sesuai dengan beratnya. “Satu ekornya saja bernilai RP 15 juta, kalau sudah puluhan yang dijual bisa mencapai ratusan juta,” jelasnya.

Bagi ukuran penyu dewasa seperti yang dilepas di Pulau Labengki ini katanya, hanya bisa diangkat satu sampai empat orang, beratnya melebihi berat badan orang dewasa.

Saat ini tambahnya masih ada sejumlah ekor penyu sementara diamankan di Karang Panya Milik Haji Arifin Desa Mekar, Kecamatan Soropia, Konawe. Jika telah berkekuatan hukum tetap penyu tersebut rencananya akan kembali di lepas kelaut bersama instansi terkait.

Terhadap tersangka dapat dijerat dan dikenakan dengan Pasal 41 ayat 2 jo pasal 21 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia (RI) Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dgn ekosistemnya, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda maksimal ratusan juta rupiah. (p2/b/put)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top