Polisi Serang Sekolah, Guru SMKN 2 Raha Masih Trauma – FAJAR Sultra
News

Polisi Serang Sekolah, Guru SMKN 2 Raha Masih Trauma

polisi. Ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID,RAHA—Tragedi penyerangan yang dilakukan sekelompok oknum Satuan Pengendalian Masa (Dalmas) Polres Muna terhadap siswa SMKN 2 Raha (eks STM), 24 November lalu, masih membuat warga sekolah trauma. Proses belajar mengajar belum efektif dilaksanakan hingga Sabtu (26/11). Siswa masih diliburkan.

Bukan hanya siswa yang trauma dengan kejadian itu, termasuk guru mereka. Tak pernah terbayang jika lembaga yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat malah namanya cidera atas aksi sekelompok oknum polisi yang main hakim sendiri. Apalagi korbannya masih pada status di bawah umur. Penyerangan SMKN 2 Raha hanya menjadi kado pahit perayaan Hari Guru Nasional (HGN) yang diperingati 25 November. Sikap anarkis oknum-oknum tersebut sangat jauh dari predikat “polisi humanis”.

Peristiwa penyerangan yang dilakukan oknum Satdalmas Polres Muna membuat psikologi warga SMKN 2 Raha drop. Sebanyak 800 siswa masih diliburkan hingga akhir pekan, kemarin. Sejak SMKN 2 Raha didirikan, tak pernah mengalami peristiwa senaas ini. Malah mereka bisa menorehkan sejumlah prestasi gemilang.

Kepala SMKN 2 Raha La Ode Hasiba mengaku, semenjak mengabdi pada tahun 1991, tak pernah ada kejadian penyerangan oleh aparat kepolisian. Baru pertama kali insiden ini terjadi. Saat penyerangan terjadi, La Ode Hasiba sedang berada di luar daerah. Dia pun kaget mendengar peserta didiknya menjadi korban amukan oknum kepolisian yang terlihat brutal. Ia sangat menyesalkan tindakan aparat yang dinilai anarkis terhadap siswa yang sedang belajar. “Waktu kejadian, saya ada di Kendari. Setelah mendengar informasi itu, saya langsung kembali ke Muna melihat kondisi siswa dan guru,” ungkapnya.

Ia berharap, kejadian tersebut mendapat perhatian serius dan bisa dikawal secara bersama proses penegakan hukumnya. Tentunya, oknum yang terlibat, harus diberi sanksi. Jangan proses hukumnya ditutup-tutupi. “Saya bersama PGRI dan teman-teman guru akan mengawal kasus ini hingga tuntas. Ini insiden yang sangat fatal. Guru juga akan siap memberikan keterangannya terkait dengan kesaksian mereka,” terangnya.

Wakil Kepala SMKN 2 Raha Bidang Kesiswaan, La Enda bercerita, saat siswa dihajar oleh aparat, guru-guru pun histeris. Mereka menangis. Guru-guru tak kuasa untuk merelai aksi yang dipertontonkan oknum anggota muda korps Bhayangkara itu. Apalagi, pelaku penyerangan dilengkapi dengan tongkat pemukul. Guru menyaksi saat penyerangan di ruang kelas, siswa bernama Ahmad Bone dihajar. “Ahmad Bone itu siswa berprestasi. Dia bukan anak nakal. Kami sangat sayangkan karena polisi menyerang membabibuta,” ungkap La Enda.

Ahmad Bone, lanjutnya, kesakitan saat dipukul dan tendangan secara bertubi-tubi. “Siswa tersungkur di bawah meja. Dipaksa naik mobil. Dia (Ahmad Bone, red) tak bisa berdiri. Sakit tulang rusuknya. Saya bilang sama polisi, kalau begini caranya, bisa mati siswa saya. Kenapa tidak bicara baik-baik,” kata La Enda mengenang tragedi penyerangan itu.

La Enda mengaku peristiwa itu sangat menakutkan. Dia melihat anggota Dalmas masuk ke lingkungan sekolah dengan melompati pagar. Menyusul mobil truk yang mengangkutnya masuk lewat pintu gerbang. Siswa dihajar tanpa tebang pilih. Mereka dihajar di depan guru-gurunya. “Kami jadi trauma mengajar,” ujarnya.

Sementara itu, Guru SMKN 2 Raha Zainal menuturkan, ketika insiden itu terjadi, dia sedang mengetik sesuatu di komputer. Dia mendengar suara mobil berhenti di depan kantor sekolah. Saat keluar hendak memastikan siapa yang datang, beberapa siswanya sudah terbaring. Spontan, Zainal langsung menghalangi polisi. Namun, masih ada juga oknum yang melancarkan aksinya. “Polisi diam saat saya katakan, kalau masuk di rumahnya orang itu, harus minta izin dulu. Bukan main hakim sendiri, siswa ditendang di ruang guru. Waktunya pun cukup lama,” kata Zainal.

Guru lain, Nursida Sima ikut menyaksikan tragedi pemukulan tersebut. Sekira lima oknum polisi berlaku anarkis. Saat kejadian, dia pun panik. Sudah 13 tahun dia mengajar di sekolah itu, insiden seperti ini baru pertama kali. “Lima orang yang melakukan pemukulan. Saya panik dan berteriak-teriak. Polisi bilang terlanjur melempar. Saya bilang, hargai kami guru di sini,” ungkap Nursida Sima.

Lanjut Nursida, Ahmad Bone itu anaknya cerdas. Ia selalu membacakan khotbah tiap Jumat. Ahmad kala dihajar hanya melindungi kepalanya dengan kedua tangannya sembari menghadap tembok. “Tolong pak polisi. Anaknya orang. Tapi polisi tidak mengindahkan. Terus menghajar,” tukasnya. Polisi datang dari arah selatan, utara, dan barat. Siapa yang dilihat saat itu dihajar tanpa tebang pilih. Nursida juga siap memberikan keterangannya meski trauma mendengar nama polisi yang identik dengan anarkis.
Tak tanya di ruang guru, di kantin pun terjadi insiden serupa. Umiyati yang sehari-harinya menjajakan jualannya dalam lingkungan sekolah mengatakan, kala itu ada siswa sekira 15 orang sementara makan. Ia pun menghalangi polisi yang berusaha masuk. Namun, Umiyati tak kuasa menahan kekuatan mereka. “Saya larang polisi. Kalau bisa jangan dulu masuk. Karena siswa sementara makan. Saya halangi pintu. Tapi polisi pukul tangan saya. Begitu masuk polisi bilang, peduli amat. Sambil menunjuk muka saya. Polisi tendang meja,” terangnya.

Siswa lain yang juga jadi bulan-bulanan polisi yakni Jaya. Saat dia telah mengikuti proses belajar mengajar di kelas, Jaya hendak ke kantin. Jaya pun mendapatkan jatah sepatu laras. “Habis belajar saya menuju kantin. Saya dengar dari teman bahwa ada polisi. Tapi saya tidak hiraukan. Saya pikir tidak ikut tawuran dan ini sekolahku juga. Saya tetap menuju kantin. Pas tiba, saya ditendang,” ungkap Jaya.

Sabtu kemarin pun, proses belajar mengajar siswa dihentikan sementara. Sebab, guru-guru SMKN masih trauma atas kejadian itu. Saat berdiskusi bersama guru, diputuskan siswa diliburkan kembali. Saat kendari pos bertandang ke kediaman Ahmad Bone korban kekerasan aparat kepolisian, dia masih merasakan rasa sakit dan nyeri. Dia dihajar sekitar lima oknum polisi. Mulai dari kepala hingga pinggangnya. Benjolan di kepalanya belum hilang. Pinggangnya masih sakit. Bibirnya luka. Lehernya pun merah akibat pukulan aparat. “Saat menuju kantor di sekolah, adami polisi mau tangkap saya. Polisi bilang, kalian jagokah lempar-lempar polisi. Mereka cekek saya dan langsung dipukul,” terangnya.

Saat itu, ia hendak mengikuti praktik usai belajar bahasa Inggris. Namun, Ahmad Bone masih menunggu teman sekelasnya yang masih di ruangan. Naas, Ahmad dihakimi oknum polisi di depan gurunya. “Di depan guru-guru saya dihajar. Ada guru yang tahan polisi tapi pukulan masuk terus. Bahkan, hampir mengenai guru. Saya tidak bisa bayangkan sampai muntah. Dadaku dihantam hingga jatuh hpku. Usai itu, hp saya rusak sebab diinjak,” ceritanya.

Hasil visum pun sudah dikeluarkan oleh pihak RSUD. Namun, pihak kepolisian yang mengamankan bukti tersebut. “Polisi itu bernama Akbar bersama anggotanya telah mengamankan hasil visum saya,” katanya.

Sementara Ibu Ahmad, Wa Ode Mandeno hanya memikirkan kondisi anaknya yang telah menjadi korban keganasan oknum polisi itu. “Kalau sekarang mungkin dia belum rasakan. Ke depan itu baru dia rasakan. Oknum polisi itu harus diberikan tindakan keras,” pintanya.

Kabid Dikjar Diknas Muna, Mukhtar mengungkapkan perkara tersebut sudah dilaporkan pada pihak kepolisian. Proses hukum harus berjalan. Guru-guru juga tetap diimbau untuk tetap mengajar. Dalam perkara tersebut, diharapkan juga tidak melakukan hal-hal yang salah. “Sabtu kemarin, kami rapat bersama guru agar tetap mengajar. Karena ini benar, maka guru jangan pernah melakukan yang salah,” katanya.

Pihaknya juga belum mengetahui sejauh mana proses hukumnya. Jelasnya, pihaknya terus akan mengawal proses tersebut. Pihak propam juga meminta bantuan para saksi untuk tetap mengabari terkait dengan insiden tersebut. “Jadi kita bersinergi untuk mengawal proses hukum itu,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Kabid Propam Polda Sultra, AKBP Agoeng Adi Koerniawan mengatakan, dalam insiden tersebut pihaknya terus melakukan penyelidikan untuk mencari oknum penyerangan tersebut. Mereka dianggap telah melakukan tindakan yang mencoreng salah satu dari sepuluh program Kapolri yaitu penguatan pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas). “Sudah ada beberapa anggota yang kami periksa terkait kasus tersebut. Siapapun yang terbukti melanggar kode etik akan kami proses. Siapapun dia, kami akan proses,” ungkap AKBP Agoeng Adi Koerniawan saat dihubungi telepon selularnya, Minggu (27/11).

Sayangnya, Kabid Propam Polda Sultra belum menyebut detil jumlah anggota Polres Muna yang telah diperiksa.
Sebelumnya, Kapolres Muna, AKBP Yudith Satria Hananta telah menyampaikan permohonan maaf kepada Ketua PGRI Muna, atas insiden di SMKN 2 Raha, termasuk pihak sekolah. Hanya saja, Kapolres tetap menganggap bahwa reaksi yang dilakukan anak buahnya adalah respon dari aksi para siswa SMKN 2. Pihak sekolah pun malah diminta menyampaikan permohonan maaf. Versi Kapolres Muna, aksi yang dilakukan anak buahnya bukanlah sebuah tindakan penyerangan. Katanya, kala peristiwa terjadi, anggota Dalmas Polres Muna sedang melakukan patroli pengamanan menyusul adanya laporan bahwa dua sekolah, yakni siswa SMAN 1 Raha dan SMKN 2 Raha, terlibat tawuran.

Begitu tiba di TKP, anggota polisi langsung berpencar membubarkan aksi tawuran. Para siswa pun lari dan membubarkan diri. Polisi ternyata belum puas, tapi masih melakukan penyisiran guna mengidentifikasi para pelaku tawuran. Anggota Polres hanya menyisir area di sekitar sekolah, bukan di dalam. Tiba-tiba mereka dilempari bongkahan batu yang arahnya berasal dari dalam kawasan sekolah. Anggota, kata Kapolres, rupanya bereaksi. Mereka mengejar pelaku pelemparan itu sampai ke dalam sekolah dan ditarik keluar. (ery)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top