Tiga Proyek Pembangkit Listrik Mangkrak – FAJAR Sultra
News

Tiga Proyek Pembangkit Listrik Mangkrak

KENDARI – Pantas saja krisis listrik di sejumlah daerah di Sultra tak pernah kunjung selesai. Sebab, proyek pembangunan pembangkit listrik yang diharapkan mampu mengatasi ketersediaan pasokan listrik di daerah ternyata mangkrak, hingga krisis listrik yang berujung pemadaman masih terus terjadi.

Hal tersebut terungkap lewat penyataan Presiden RI Joko Widodo baru-baru ini, yang menyebutkan sedikitnya ada 34 proyek pembangkit listrik mangkrak, sejak sejak 2007. Total kapasitas 34 pembangkit itu mencapai 627,8 Megawatt (MW).

Dari jumlah tersebut, sebagaimana disebutkan Presiden, tiga diantaranya terdapat di Provinsi Sultra, yakni proyek pembangkit listrik yang mangkrak itu ada di Wangiwangi (kabupaten Wakatobi), Baubau (kota Baubau) dan Raha (Kabupaten Muna).

Ketiganya dibangun di daerah kepulauan untuk mengatasi ketersediaan pasokan listrik di daerah kepulauan, karena tidak dilalui jaringan interkoneksi transmisi listrik dari wilayah daratan.

Di Baubau proyek mangkrak itu berupa proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Baubau 2 x 7 MW.

Begitupun juga dengan PLTU Wangiwangi 2 x 3 MW, kini diganti dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang kapasitasnya lebih besar. PLTMG di Wakatobi tersebut direncanakan sudah akan beroperasi pada 2017.

“Kami juga sedang melelang PLTMG di Wangiwangi, Raha, dan Bau Bau 30 MW, target COD (Commercial Operation Date) 2017,” tukas Direktur Bisnis Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara Machnizon Masri, dalam siaran persnya di Jakarta.

Proyek-proyek pembangkit listrik yang mangkrak ini diketahui dibangun di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Pembangkit-pembangkit listruk mangkrak ini adalah bagian dari Fast Tracking Project (FTP) pada kurun waktu 2007-2011.

Dari 34 proyek yang mangkrak ini terdapat 17 proyek yang telah dilanjutkan dan sudah ada jalan keluarnya, enam proyek diputus kontraknya lalu diambil alih oleh PLN untuk dilanjutkan, dan 11 proyek diterminasi.

Meski ada 11 proyek yang tak dilanjutkan, PLN telah melakukan langkah-langkah agar pasokan listrik untuk masyarakat tetap tercukupi, jangan sampai terjadi krisis listrik. Seperti mengantikanya dengan Gardu Induk (GI), sehingga kebutuhan listrik masyarakat sekitar dapat dipenuhi dari pembangkit lain.

Dengan adanya proyek-proyek pengganti ini, PLN menjamin kebutuhan listrik masyarakat tercukupi. Untuk mencegah proyek pembangkit mangkrak seperti di masa lalu, PLN telah memperketat aturan lelang sejak 2014. Dana jaminan yang sebelumnya hanya 1% sekarang dinaikkan menjadi 10%. Kalau proyek mangkrak, kontraktor atau Independent Power Producer (IPP) akan rugi sendiri, dana jaminan yang disetornya menjadi milik PLN.

Sementara itu, di daratan Sultra sendiri krisis listrik hingga kini juga belum bisa diatasi sehingga pemadaman listrik masih terjadi. Rencana mengkoneksikan transmisi jaringan listrik dari provinsi Sulsel ke Sultra baru akan berjalan tahun depan. Pasokan listrik dari Sulsel yang surplus diharapkan bisa mengatasi kekurangan listrik di wilayah daratan Sultra.

“Kita berharap tahun depan interkoneksi jaringan listrik baik yang dari Sulsel maupun Sulteng yang mana mereka suplus daya listrik dapat dibagi ke kita (Sultra). Sementara saat ini pembangunan transmisinya sementara dalam tahap pengerjaan,” ungkap Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sultra Burhanuddin, baru-baru ini.

Saat ini interkoneksi transmisi dari antar provinsi belum tersambung, dikarenakan adanya kendala dari pembangunan transmisi itu sendiri. Karena sebagian besar, pembangunan transmisi tersebut masuk dalam kawasan hutan. Olehnya itu, harus menunggu izin pembebasan untuk dapat dilanjutkan pembangunan.

Pihaknya mencatat daratan Sultra masih membutuhkan pasokan daya listrik sebesar 65,6 mega watt (MW) untuk memenuhi kebutuhan dasar listrik warga. Dimana pasokan listrik yang tersedia sebesar 275,86 MW, sedangkan daya terpasang sebesar 341,46 MW. Sehingga masih kekurangan 65,6 MW.

PLN Cabang Kendari hanya memproduksi pasokan listrik sebesar 80- 90 MW, masih jauh dari kebutuhan.

Dari jumlah pasokan listrik yang tersedia, baru bisa memenuhi kebutuhan listrik 449.713 kk dan industri kecil. Sementara warga yang belum mendapatkan pasokan listrik mencapai sebanyak 157.473 kk.

Makanya, Burhanuddin berharap intekoneksi jaringan listrik tersebut dapat mensuplai kekurangan daya listrik di Sultra.

Daya listrik yang dimiliki Provinsi Sulsel sebesar 1.329 MW terpakai di Sulsel sudah mencapai 1.030 MW. Sehingga paling tidak masih surplus sebesar 300 MW. (ags)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top