Miris, Polisi Aniaya Siswa – Hacked by TryDee
News

Miris, Polisi Aniaya Siswa

BUTONPOS.COM, RAHA–Tindakan tidak terpuji yang dilakukan sejumlah oknum polisi di Polres Muna. Seharusnya memberikan pelayanan, perlindungan, dan pengayoman terhadap masyarakat, justru menganiaya siswa SMKN 2 Raha.

Wakil Kepala SMKN 2 Raha, La Enda SPd, membenarkan siswanya telah dipukuli anggota Polres Muna saat berpatroli. Pihaknya sangat menyayangkan tindakan yang dilakukan aparat penegak hukum itu. Dia menilai tindakan tersebut tidak manusiawi, karena telah melakukan pemukulan pada saat proses belajar sedang berlangsung.

“Kronologisnya seperti ini, ada pelemparan dari luar. Lemparan batu. Jadi anak-anak itu terhambur di luar kintal sekolah. Saya halau anak-anak, tidak boleh keluar kintal sekolah. Pada saat itu anak-anak masih dalam pagar sekolah,” kata La Enda, saat dikonfirmasi melalui selulernya, Senin (28/11).

Menurut dia, pada saat itu terdengar bunyi tembakan sehingga pihaknya merasa senang karena sudah ada aparat yang datang. Namun ternyata diluar dugaan. Pihaknya mengakui, awal dari provokator itu berasal dari siswa sendiri yang melakukan pelemparan. Tiba-tiba secara tidak sengaja mengenai anggota Polres Muna yang sedang berpatroli.

“Spontanitas polisi ini mengejar itu masuk ke dalam kintal sekolah, masuk ke pagar-pagar sekolah. Sehingga kita tidak izinkan di dalam nanti pukul siswa sembarangan,” pungkasnya.

Dari peristiwa itu, pihak sekolah sudah membawa siswa itu ke Rumah Sakit Muna untuk dilakukan visum. Setelah itu, pihaknya melaporkan secara resmi ke Polres Muna. Langsung ditemui Wakapolres Muna dan meminta agar siswa tersebut harus dirontgen terlebih dahulu. Namun, setelah tiba di rumah sakit pihaknya harus menunggu lama.

“Ternyata dari dokter rumah sakit tidak boleh melakukan rontgen kalau tidak ada surat pengantar dari kepolisian. Akhirnya orang tuanya langsung pulang,” tukasnya.

Sabtu (26/11), lanjutnya, dari pihak kepolisian mendatangi SMKN 2 Raha untuk melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut. Dalam kondisi itu, para siswa dan guru masih dalam keadaan trauma sehingga pihak sekolah tidak mau menerima kedatangan polisi itu.

Namun saat ini pihaknya sudah melakukan komunikasi kepada pihak kepolisian dan meminta untuk berdiskusi dengan semua guru yang ada di SMKN 2 Raha. Walaupun dari pihak guru masih dalam keadaan tidak mau menerima pihak kepolisian yang ingin berdiskusi langsung. Pihaknya mempertanyakan, mengapa pada saat ingin melakukan rontgen di rumah sakit masih juga dipersulit.

Lanjut dia, mengenai proses penegakkan hukum terhadap oknum yang telah melakukan pemukulan terhadap siswanya itu persoalan kedua. Kata dia, yang terpenting adalah bagaimana kondisi siswa yang sudah dipukuli jangan sampai terjadi apa-apa. Sehingga pihak sekolah yang dipersalahkan. Dan sampai saat ini, siswa itu tidak lagi dilakukan rontgen karena dinilai sudah dalam keadaan membaik.

“Kebetulan tadi dari Propam Polda Sultra datang mengambil keterangan dari sekolah, termasuk dari semua korban atau semua saksi mata, guru dan semua yang ada di sekolah. Korban yang dibawa di rumah sakit itu ada dua orang,” jelasnya.

Sementara polisi yang melakukan pemukulan, menurutnya jumlahnya 15 orang. Namun sayang dia tidak mengetahui nama-nama yang melakukan pemukulan itu. Sementara itu, proses hukum yang dilakukan saat ini masih ditangani Propam Polda Sultra dan menanyakan nama-nama yang telah melakukan pemukulan itu.(p2/m5)

Kronologis:

* Mula-mula terjadi pelemparan batu
* Siswa tahambur keluar dari ruangan
* Diduga batu mengenai polisi yang sedang patroli
* Polisi datang menghajar siswa
* Dua siswa dibawa ke rumah sakit untuk divisum
* Orang tua siswa dan pihak sekolah melapor ke Polres Muna
* Polisi mengajurkan untuk dilakukan rontgen
* Siswa diantar ke rumah sakit untuk dirontgen namun ditolak karena tidak mengantongi rekomendasi dari Polres Muna
* Kasus akhirnya ditangani Propam Polda Sultra

Buton Pos

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top