Dua Anggota KPU Konsel Ditahan, Koruptor Muna Kembalikan Duit Rp 1,3 M – FAJAR Sultra
News

Dua Anggota KPU Konsel Ditahan, Koruptor Muna Kembalikan Duit Rp 1,3 M

Inilah uang yang dikembalikan tersangka koruptor percetakan sawah di Muna

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI—Dua Kejaksaan Negeri (Kejari) di Sultra memberi persembahan manis menjelang peringatan Hari Anti Korupsi Internasional, yang jatuh 9 Desember, hari ini. Pertama, Kejari Konawe Selatan yang menahan dua anggota KPU setempat karena diduga korupsi. Kemudian di Muna, seorang terpidana korupsi datang mengembalikan duit negara, berupa uang pengganti hasil korupsi.

Prestasi ini adalah rentetan kisah sukses jajaran korps Adhyaksa di Sultra, sejak Sugeng Djoko Susilo menjadi komandan para jaksa di Bumi Anoa, setahun lalu. Spirit melawan para penyeleweng dana negara ditularkan mantan Wakajati Sulteng itu. Hasilnya, seluruh jaksa di Kejaksaan Negeri (Kejari) yang ada di Bumi Anoa, berlomba memberi bukti, bahwa mereka serius menjadi pendekar-pendekat anti korupsi di negeri ini.

Kemarin di Konsel, jaksa menahan dua anggota KPU Konsel, yakni Nuzul Qadri dan Aswan S.Pd. Mereka diduga melakukan tindak pidana korupsi penyimpangan keuangan negara dalam kegiatan pengelolaan dana hibah Pilkada tahun 2015 lalu, berupa biaya sewa (rental mobil) kendaraan sebanyak 6 unit di KPU Konsel.

Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus Kejari Konsel, Keyu Zulkarnain Arif, SH kemarin saat dikonfirmasi menjelaskan, penahanan kedua komisioner itu berdasarkan surat perintah Kajari nomor: print-10/R.3.18/Ft.1/12/2016, tanggal 08 Desember 2016 kepada tersangka Nuzul Qadri dan untuk tersangka Aswan dengan nomor: print-11/R.3.18/Ft.1/12/2016.

“Setelah berkasnya dinyatakan lengkap dari penyidikan ke jaksa penuntut umum, Kejari mengeluarkan perintah penahanan,” katanya.

Penahanan kedua tersangka itu berlangsung sekitar pukul 12.00 Wita. Sebelumnya keduanya telah menerima surat panggilan dari Kejari Konsel.

“Namun mereka tetap koperatif, mereka hadir, akhirnya pada jam 12 siang kita tahan dan langsung antar menuju Rumah tahanan Negara (Rutan) di Kendari. Tiba disana sekitar pukul 15.00 wita,” jelasnya.

Beberapa hari lalu, Kepala Kejari Konsel, Abdillah memang sudah pernah menyampaikan bahwa dalam waktu dekat, ia akan melakukan penahanan kepada kedua komisioner itu. Rupanya, Abdillah menunggu moment bagus, persis sehari menjelang Hari Anti Korupsi. Ia ingin memberi persembahan manis bagi institusinya. “Kedua tersangka itu sudah kami tahan. Waktu penahanan selama 20 hari. Hal ini dilakukan agar tersangka tidak menghilangkan barang bukti. Sambil menunggu berkas dakwaan,” jelasnya.
Dari kasus tersebut, pihaknya telah mencatat terdapat kerugian negara sekitar Rp 270 juta.

Dana tersebut, kata dia, merupakan akumulasi dari danah hibah yang diporsikan masing-masing ke lima komisioner. Yakni, Rp 54 juta per komisioner. Sedangkan tiga komisioner lainnya, Abdillah masih enggan berkomentar. Namun pihaknya memberikan sinyal bahwa dalam waktu dekat pihak terkait lainnya akan segera menyusul.

Untuk diketahui, kasus yang menjerat sejumlah anggota KPU Konsel itu berawal dari laporan besaran dana yang dikembalikan kepada bendahara KPU oleh para komisioner ini. Jumlahnya sekitar Rp 54 juta. Bendahara atas nama Jawal ketika itu bingung dari mana uang itu. Dari situlah awal mulanya pihak kejaksaan terus mengembangkan kasus itu sampai akhirnya ada tersangka.

Prestasi juga ditorehkan Kejari Muna. Kemarin, seorang terpidana korupsi bernama Rusdianto, pagi-pagi sekali sudah datang ke Kejari Raha, membawa satu tas duit yang setelah dihitung jumlahnya mencapai Rp 1,3 Miliar. Uang itu adalah pembayaran kerugian negara, yang ia “ambil”, kala mengerjakan swakelola penataan kawasan kumuh Lagasa-Tula tahun 2008 lalu.

Rusdianto, divonis bersalah melakukan korupsi tahun 2013 lalu, dan wajib menjalani hukuman kurungan selama 4 tahun, dan membayar denda Rp 200 juta, dan uang pengganti korupsi sebesar Rp 2,1 M. Usai hukuman badan ia jalani-yang berkurang karena mendapat remisi-Rusdianto pun menunaikan kewajibannya yang lain, yakni membayar denda dan uang pengganti, dengan total Rp 2,3 M.

Datang bersama pengacaranya, Kamal Rahmat SH, sekira pukul 10.00 Wita, Rusdianto langsung ke ruang Kepala Kejari Muna Badrut Tamam. Sejam kemudian, ia keluar dan meletakan tas berisi duit yang ia bawa di atas meja. Kemudian, duit di tas itu ia keluarkan dan dipersilahkan dihitung oleh jaksa dan pihak bank yang diundang. Uang itu terdiri dari 12 ikat pecahan Rp 100 ribu, serta dua ikat pecahan Rp 50 ribu. Total Rp 1,3 M.

Setelah duit kelar dihitung, Kejari Badrut Tamam yang didampingi Kasi Pidsus I Dewa Gede Baskara, Kasi Datun Enjang Slamet dan Kasi Pidum Yosephus Ari Sepdiandoko memberikan penjelasan pers. Katanya, duit itu adalah sebagian dari uang pengganti dan denda yang wajib dibayar Rusdianto, sebagai terpidana korupsi. “Sisanya, yang Rp 1 M, dibayar terpidana dengan menyerahkan sertifikat tanahnya seluas kurang lebih 16 ribu meter persegi di kawasan Kecamatan Lasalepa, Muna,” kata Badrut Tamam.

Kata Kajari, berdasarkan keterangan kepala desa di lokasi tanah Rusdianto, harga tanah di wilayah itu ditaksir Rp 50 ribu-Rp 100 Ribu. Artinya, kalau dikalikan dengan luas lokasi, maka bisa diperoleh hasil sebesar Rp 1,6 M. “Kita akan sita, dan lelang tanah itu. Kalau hasil penjualanya lebih banyak dari kewajiban terpidana, maka sisanya akan kita kembalikan kepada yang bersangkutan,” kata Kajari.

Bukan hanya menerima duit dari Rusdianto, kemarin Kejari Muna juga menyampaikan bahwa keluarga terpidana La Ode Muri atas kasus yang sama juga mengembalikan uang tunai sebesar Rp 50 juta. Saat ini, La Ode Muri masih menjalani hukuman 2 tahun penjara. “Pidana dendanya yang Rp 50 juta, sudah diserahkan ke kami. Jadi, sekarang kami sudah mengamankan uang negara sebesar Rp 2, 350 M. Selanjutnya, duit tersebut sesegera mungkin akan diserahkan pada kas negara,” tandasnya.(kam/ery)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top