Tidak Ada Pilihan, Ruang Tak Layak Huni Tetap Dipakai – Fajar Sultra
News

Tidak Ada Pilihan, Ruang Tak Layak Huni Tetap Dipakai

♦ Potret Minimnya Sarana Pendidikan di MTs Liya Wangiwangi Selatan

MINIMNYA sarana pra sarana pada sejumlah sekolah di Wakatobi terutama madrasah tingkat tsanawiah banyak ditemukan, salah satunya seperti yang terjadi di MTs Liya, Desa Liya Togo, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi.

Sekolah agama yang sudah lama didirikan dari inisiatif masyarakat setempat, masih jauh dari kata layak huni. Sejak 2012 silam awal berdirinya, sekolah itu hingga kini belum mendapatkan perhatian serius Pemda setempat.

Gedung tersebut hanya bermaterialkan bambu dan papan sebagai dindingnya, dan berlantaikan tanah. Kondisinyapun cukup memprihatinkan.

Kondisi memprihatinkan ruang kelas belajar (RKB) MTs Liya yang hanya terbuat dari papan dan bambu seadanya.

Bahkan, selama dua tahun terakhir, siswa terpaksa harus berbagi ruang belajar, dikarenakan kekurangan gedung. Parahnya lagi, dua kelas terpaksa berkelas di bawah pohon, disamping gedung yang hanya beratapkan tarpal.

“Dua kelas terpaksa belajar di bawah pohon beringin samping kanan ruang kelas. Jadi kelas yang gurunya masuk duluan, mereka mi yang gunakan ruang kelas, sementara yang lain menyesuaikan,” tutur Kepala MTs Liya Baharudin di ruangannya, Sabtu (10/12).

Meski kondisi sekolah tidak layak pakai, namun hal itu tidak membuat guru dan siswanya patah semangat. Proses belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Bahkan ditengah keterbatasannya, sekolah ini telah menamatkan puluhan siswa selama lima tahun terakhir.

Baharudin menambahkan, kondisi ini pula yang menarik simpatik salah seorang anggota dewan, dimana anggota dewan siap membangun satu ruang gedung belajar melalui dana aspirasi yang dimilikinya.

“Alhamdulillah saat ini kami sudah mendapatkan tambahan gedung, adapula bantuan rehab Kanwil Kemenag, ada juga satu gedung bantuan dari dana aspirasi anggota dewan, Pak Moane Sabara. Dan kita dijanjikan, insyaallah 2017 nanti akan ada tambahan satu gedung lagi,” terangnya.

Meski begitu, sekolah yang dipimpinnya masih banyak kekurangan, sebanyak 20 orang guru terpaksa berbagi kursi dan meja di ruangan yang hanya berukuran 4 × 4 menter persegi itu.

Apa lagi kata dia, sebagian besar kursi dan meja merupakan milik salah satu sekolah tak jauh dari MTs itu yang masih berstatus pinjaman.

Olehnya itu, dirinya meminta Pemda setempat bisa memberikan bantuan kepada sekolah tersebut.

“Kami sangat mengharapkan bantuan dari pemda. Jangan melihat MTs itu semuanya berada dibawah kontrol Kementerian Agama, tapi intinya ini adalah yayasan masyarakat, minimal sarana prasarananya mendapatkan perhatikan,” pintanya. (hrs)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top