MIRIS! Kekerasan Terhadap Ibu Meningkat di Sultra – FAJAR Sultra
News

MIRIS! Kekerasan Terhadap Ibu Meningkat di Sultra

Ibu-ibu di Panti Jompo. Foto: M Syuhadah/Kendari Pos

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI–-Pada awalnya, tanggal 22 Desember diperuntukan untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa yang digagas tahun 1928 silam. Namun pada tahun 1959, Presiden RI Soekarno menetapkannya menjadi Hari Ibu melalui dekrit presiden nomor 316. Sejak dideklarasikan, perjuangan kaum perempuan mendapatkan hak layaknya pria masih jauh dari harapan. Termasuk perlakukan yang tidak menyenangkan.

Dalam 3 tahun terakhir, kasus kekerasan terhadap perempuan (ibu) terus meningkat. Namun angka ini kemungkinan lebih besar. Apalagi kasus kekerasan terhadap ibu ini bak fenomena gunung es yang hanya nampak diujung. Ketidakpemahaman dan ketidakberdayaan menyebabkan kaum perempuan terutama Ibu Rumah Tangga (IRT) hanya bisa pasrah. Terutama dalam mendapatkan perlindungan dan advokasi. Pada tahun 2014, kasus kekerasan terhadap ibu hanya 8 kasus. Namun pada tahun 2015 meningkat menjadi 18 kasus. Pada hingga November ini, kasus yang ditangani telah mencapai 18 kasus.

Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sultra, kasus yang menimpa kaum ibu maupun perempuan kini mulai bervariasi. Bila tahun-tahun sebelumnya, masih didominasi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Kini, sudah sebanding dengan kasus pelecehan dan penelantaran. Hal yang sama juga terjadi pada kasus anak (perempuan). Yang menarik, pelakunya adalah orang terdekat korban. Mulai dari orang tua kandung, paman, tetangga hingga atasannya.

“Kalau merujuk pada angka, memang ada peningkatan. Namun juga keberhasilan pemerintah dalam mensosialisasikan program Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BPPPA-KB) Sultra. Selama ini, banyak perempuan yang tidak tahu lembaga ini. Padahal ada lembaga yang memberi penanganan bukan hanya kasusnya, namun juga konseling, pembimbingan, hukum hingga pemberdayaan para korban,” kata Farida, Wakil Ketua P2TP2A Sultra ini, Rabu (21/12).

Dalam penanganan kasus sambung Farida, BPPPA-KB berkoordinasi dengan berbagai lembaga. Mulai dari kepolisian (Polda Sultra), Lembaga Bantuan Hukum (LBH), RSJ Sultra hingga LSM pemerhati perempuan dan anak. Untuk perkara pidana, LBH akan melakukan pendampingan. Untuk mengembalikan kepercayaan diri, para korban akan didampingi psikiater. Bukan hanya sampai disitu, korban juga akan diberikan pelatihan hingga modal usaha. Sayangnya, kasus-kasus seperti banyak yang berakhir damai.

Melalui pendekatan adat atau kekeluargaan, banyak kasus ini berakhir damai. Apalagi pelakunya memiliki ikatan keluarga. Padahal kasusnya sudah masuk ke ranah pidana. Makanya, beberapa LSM cukup kecewa. Pasalnya, para pelaku tidak mendapat ganjaran. Pada kasus lain, ada pula korban yang mencabut laporannya lantaran diintimidasi.

Pasalnya, pelaku adalah orang yang berpengaruh. Karena takut dengan keselamatan keluarganya, korban menarik laporannya. “Kasus pelecehan seksual yang masuk cukup unik. Ada korban yang diperkosa bapaknya. Padahal yang bersangkutan telah bersuami. Kasus yang sama terjadi di Konawe Selatan (Konsel). Ada pula korban yang dilecehkan sahabatnya. Anak TK yang dilecehkan seorang kakek yang berusia 70 tahun. Selain itu, ada ibu yang diterlantarkan suaminya sehingga harus menghidupi anak-anaknya. Kasus yang ditangani tersebar hampir di semua daerah di Sultra. Termasuk DOB seperti Buton Utara (Butur),” kata wanita berhijab ini.

Meskipun banyak kasus yang tidak terselesaikan kata wanita berkaca mata ini, namun tidak sedikit kasus bisa dituntaskan. Pelaku berujung ke terali besi, sementara para korban berhasil move on. Bahkan ada yang bisa hidup mandiri. Untuk memudahkan penanganan, pemerintah telah membangun rumah singgah. Mulai tahun 2017, korban tidak perlu lagi dirujuk ke RSJ. Kini, psikiater akan ke BPPPA-KB untuk memberikan pelayanan konseling.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes), tingkat kematian ibu sejak tahun 2011 s.d 2014 terus menurun. Namun pada tahun 2015, mengalami peningkatan namun tidak signifikan. Di sisi lain, survey demografi dan kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas terus menurun. Hal ini tidak datang begitu saja, sejak beberapa tahun lalu pemerintah memperkuat investasi di sektor kesehatan melalui strategi making pregnance safer. Hal ini sejalan dengan cakupan pelayanan ibu hamil yang menunjukan peningkatan. Begitu pula dengan upaya pertolongan saat persalinan dan ketersediaan tenaga medis.

“Pada tahun 2011, angka kematian ibu mencapai 97 kasus. Setahun kemudian turun menjadi 84 kasus, lalu 79 kasus dan 65 kasus pada tahun 2014. Pada tahun 2015, naik menjadi 67 kasus. Untuk tahun ini, kasusnya belum direkap. Namun dari hasil evaluasi, kemungkinan angkanya menunjukan tren penurunan,” beber dr Asrum Tombili, Kepala Dinkes Sultra kemarin.

Dari 17 kabupaten/kota di Sultra kata mantan Kepala RSUD Konawe ini, tingkat kematian ibu tertinggi pada tahun 2015 berada di Kendari dan Konawe Selatan. Pada tahun lalu, terdapat 8 kasus kematian ibu. Sementara Buton Utara (Butur), kasus kematian ibu benar-benar nihil. Konawe Kepulauan (Konkep) dan Buton hanya 1 kasus. Sementara daerah lainnya, hanya 2 s.d 6 kasus. Optimalisasi pelayanan kesehatan disetiap puskesmas menjadi indikator pendukung. Termasuk memberian gizi seimbang bagi ibu hamil karena penyebab tertinggi. (mal)

Kasus Kekerasan Perempuan Kasus Kekerasan Anak

Tahun 2014 8 Kasus Tahun 2015 11 Kasus
Tahun 2015 18 Kasus Tahun 2016 6 Kasus
November 2016 18 Kasus

Kasus Kematian Ibu
Tahun 2011 97 Kasus
Tahun 2012 84 Kasus
Tahun 2013 79 Kasus
Tahun 2014 65 Kasus
Tahun 2015 67 Kasus

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top