Selamat Hari Ibu..Fatimah: Kalau Ikut Saran KB, Mungkin tak Ada Nur Alam – Fajar Sultra
News

Selamat Hari Ibu..Fatimah: Kalau Ikut Saran KB, Mungkin tak Ada Nur Alam

Gubernur Nur Alam, saat menjenguk ibunya di rumah sakit Bahteramas Sultra, awal Desember 2016. Foto: IST/Kendrai Pos

Ibu itu..
Puisi yang tak pernah selesai dibaca
Rumah dengan banyak jendela..
Doa yang tak pernah selesai..
Pahlawan hidup

Ibu itu..
Belaiannya lebih lembut dari sutera
Pangkuannya adalah tempat ternyaman
Senyumannya lebih cantik dari bunga
Kau adalah alasan kenapa aku ada.
KENDARIPOS.CO.IDSuatu hari di tahun 1966, Hj Fatimah diajak ikut program Keluarga Berencana (KB) oleh seorang petugas kesehatan. Tapi perempuan luar biasa asal Konda, Konawe Selatan ini menolak. Walau sudah melahirkan 10 anak, suaminya percaya bahwa setiap anak yang lahir, membawa rezekinya sendiri. Dan, itulah yang terjadi. Anak ke 11 lahir di bulan Juli 1967 dari rahimnya. Ia beri nama Nur Alam dan kini jadi Gubernur Sultra.

Hj Fatimah memang ibu luar biasa. Usianya kini sudah 85 tahun. Ia adalah sosok pejuang bagi keluarga dan anak-anaknya. Dari rahimnya, ia dikaruniai 12 orang anak. Sayangnya, lima di antara putra putrinya meninggal ketika masih kecil. Perjuangannya makin berat saat suaminya, Isruddin dipanggil menghadap Sang Khalik, pada tanggal 26 Februari 1982. Praktis, Hj Fatimah berperan sebagai orangtua tunggal.

Setelah melalui berbagai pergulatan hidup yang keras, Hj Fatimah sudah bisa tersenyum bangga saat ini. Di usianya yang sudah sepuh, ia telah mampu menjadi seorang ibu yang terbaik bagi anak-anaknya. Dalam perbincangan dengan wartawan senior dengan Fatimah teungkap bahwa, keengganannya ikut ber-KB adalah pilihan yang tepat bagi dia dan bahkan daerahnya. Andai ia menuruti saran petugas KB, mungkin tak akan ada Nur Alam buat Sultra, yang kemudian kini jadi gubernur.

Lantas bagaimana seorang Nur Alam merefleksikan sosok ibundanya? Secara ekslusif, kepada Abdi Mahatma dari Kendari Pos, Gubernur Sultra itu bercerita betapa besar kasih sayang yang diberikan ibundanya, sejak ia masih kecil hingga saat ini. “Ibu adalah manusia pertama yang kita lihat, yang kita kenal, yang pertama memberi kasih sayang. Kita terlahir di dunia dan mengenal berbagai kenikmatan karena jasa seorang ibu,” kata Nur Alam, kemarin di ruang kerjanya.

Saking besarnya jasa seorang ibu, Nur Alam menyebut bahwa ia adalah simbol Tuhan di dunia. Bahkan, surga pun dikatakan ada di bawah telapak kaki para ibu. “Di hari ibu ini, jangan hanya dianggap momentum nomenkaltur sebuah hari yang disebut hari ibu, tapi jadikanlah sebagai titik untuk menghayati betapa dalamnya hubungan antara kita sebagai anak dan ibu kita,” katanya.

Gubernur Sultra ini menganggap, sosok ibundanya adalah enegi, dan spirit yang selalu menjadi kekuatan besar bagi dirinya. Ibu adalah orang yang selalu mendoakannya dalam semua situasi, termasuk saat ini ketika ia sedang menghadapi masalah rumit. Menurut Nur Alam, meski ia sudah berusaha menyembunyikan kegundahannya terkait masalah yang tengah ia hadapi, tapi sang ibu, entah dari mana, sepertinya tahu bila anak hebatnya itu tengah menghadapi masalah.

“Setiap saya mengunjungi beliau, pagi atau sore, beliau selalu berpesan agar saya bersabar. Beliau selalu mendoakan saya. Itulah yang membuat saya kuat, karena saya yakin, apa yang saya alami tidak lepas dari penjagaannya. Doa keselamatan selalu beliau panjatkan,” katanya dengan nada bergetar menahan haru.

Kisah heroik Hj Fatimah adalah satu dari banyak cerita soal cinta kasih seorang ibu yang kemudian menjadi pahlawan bagi anak-anak dan keluarganya. Semua orang-orang sukses saat ini, selalu punya kisah indah tentang ibu mereka masing-masing. Keistimewaan seorang ibu bahkan dicatat dalam Hadis Nabi Muhammad SAW, yang memerintahkan umat muslim menghargai ibu, 3 kali lebih banyak dari seorang ayah.

Wali Kota Kendari, Ir Asrun juga punya cerita soal hari ibu. Baginya, tak perlu menunggu tanggal 22 Desember untuk melakukan sesuatu yang istimewa bagi perempuan yang telah melahirkannya, sebab, usia merupakan rahasia Allah. Sehingga kebersamaan dengan ibu harus dimaksimalkan. “Saya rasakan betul kasih sayangnya tanpa pamrih, meskipun kita kepala batu, dia tetap tidak berubah, tetap ramah dan pengertian,” katanya, mengenang sosok ibundanya.

Salah satu pengalaman paling berharga bagi Asrun yakni saat dirinya menempuh pendidikan S1 di Makasar. Katanya, ibunya adalah sosok yang selalu rindu dan memilih menengoknya ke Makasar. “Tapi malah kadang saya suruh tidur di rumah keluarga karena saya mau konsen belajar, tapi dia mengerti saja,” kisahnya.

Bahkan ketika melanjutkan studi ke Australia, Asrun tak ragu meninggalkan anak dan istrinya bersama ibunya. “Saya tenang karena saya tahu ada ibu saya yang menjaga mereka bertiga,” lanjutnya.

Meski telah berbeda alam dengan sang ibu sejak 9 tahun yang lalu, pesan-pesan sang inspirator itu masih selalu terngiang ditelinganya. Cara mendidik anak benar-benar dijadikannya panutan. Nilai agama, pendidikan, dan hubungan bermasyarakat sudah ditanamkan ibunya sejak kecil.

Ada satu permintaan sang ibu yang tidak sempat direalisasikan Asrun karena ibunya terlebih dulu dipanggil Pencipta. Saat itu, Asrun sudah memenangkan pertarungan kursi wali kota. Lalu sang ibu meminta agar digelar selamatan. “Saya jawab, belum dilantik dan belum ada SK, nanti saja,” ujarnya mengulangi perkataannya pada ibunya 2007 silam.

Sayangnya, sebelum Asrun-Musadar diambil sumpahnya sebagai Wali Kota periode 2007-2013, sang ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya. “Saya sedih betul di hari pelantikan itu tanpa ibu saya,” sambungnya.

Ia menghimbau kepada siapa saja yang masih memiliki kedua orang tua terutama ibu agar benar-benar berbakti dengan kesungguhan hati. “Ibu itu tidak minta banyak yang penting kita sukses itu sudah buat dia lega, saya pun jadi wali kota karena doa ibu saya, sebelum kampanye saya sungkem dulu minta restunya, Alhamdulilah semua urusan saya selalu lancar,” paparnya.

Apa yang diajarkan sang ibu, itu pula yang diturunkan Asrun pada anak-anaknya. Jika ingin manja, sesungguhnya karena bukan karena sang anak lemah tetapi karena itulah cara ibu dan anak menjadi dekat.

Zaman kini memang berbeda. Tantangan seorang ibu membesarkan anak dan menjadi pahlawan bagi keluarganya tentu makin berat, dengan tantangan yang berbeda pula. “Sepanjang kita tetap berpegang pada nilai-nilai agama, Insya Allah kita bisa jadi ibu yang baik, bagi anak dan juga bagi keluarga,” kata Hj Husna Asy’ary, perempuan yang bersama pasangannya H La Zahi Jaya, dinobatkan jadi pasangan paling sakinah tahun 2016, oleh Kemenag Sultra.

Menurut Husna, yang ditemui beberapa waktu lalu, menjadi ibu yang baik itu erat kaitannya dengan keutuhan keluarga. Ibu yang baik, adalah yang selalu memperlihatkan raut wajah ceria, lapang dada dalam mendidik anak-anak, punya budi bahas yang halus dan mampu melahirkan ketenangan batin. “Anak kami 7 orang, semua Alhamdulillah sudah bisa mandiri sekarang,” katanya didampingi suaminya, La Zahi Jaya.

Husna mengatakan, peran seorang ibu dalam keluarga sangatlah penting. Ibu adalah bagian dari pendidik dari anak-anak. Selalu memberikan kasih sayang, dan yang terbaik kepada anak-anak dan keluarga. Anak dapat menjadi yang terbaik ketika, ibu dapat menanamkan nilai-nilai agama kepada sang anak. “Ibu itu selalu memberikan kasih sayang kepada keluarga. Terutama untuk anak-anaknya,”kata wanita berusia 64 tahun ini kemarin

Seorang ibu, menurut Hj Husna, adalah sosok yang wajib memberikan ketenangan kepada suaminya saat sang imam keluarga itu pergi mencari nafkah. Ia harus bisa menjadi pengayom bagi keluarganya. Ia akui, tidak mudah menjadi seorang ibu yang jadi dambaan anak-anak dan suami, tapi ia dan suaminya berkomitmen, bila ada masalah haruslah diselesaikan dengan komunikasi yang santun.

Ia ingat betul wejangan orang tuanya. Bahwa agar anak dapat sukses dunia dan akhirat, maka tanamkanlah nilai-nilai agama sejak dini. Dia berpesan, di hari Ibu hari ini, semoga semua orang sadar terutama, para anak-anak,bahwa ibu adalah orang yang paling penting dalam keluarga. “Saya ingat pesan ibu saya. Setiap manusia dapat baik akhlaknya ketika agamanya baik. Maka pesan saya didik anak dengan agama,”katanya.(ade/yog)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top