2.163 Wanita Jadi Janda di Sultra, Kota Kendari Terbanyak – FAJAR Sultra
News

2.163 Wanita Jadi Janda di Sultra, Kota Kendari Terbanyak

ILUSTRASI

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI–-Ini mulai mengkhawatirkan. Angka keretakan keluarga di Sultra menunjukan grafik meningkat setiap tahunnya. Tahun ini, jumlah suami istri yang bercerai mencapai 2.163 pasangan. Itu artinya, ada 2.163 yang memilih atau bisa juga terpaksa jadi janda. Dari jumlah itu, Kota Kendari menjadi penyumbang janda terbanyak, mencapai 590 orang, atau 25 persen dari jumlah janda di Bumi Anoa.

Data itu kemungkinan masih akan bertambah karena saat ini masih ada yang tengah menjalani proses persidangan perceraian di Pengadilan Agama, di berbagai daerah di Sultra. Angka itu juga baru hasil rekapitulasi mulai Januari sampai November lalu, yang dikumpulkan Pengadilan Tinggi Agama Sultra. Tahun ini lebih banyak angka cerai, karena tahun lalu hanya 2.057 pasangan.
Dari total perkara tersebut cerai gugat atau cerai yang diajukan oleh pihak wanita untuk mengahiri rumah tangganya masih tetap mendominasi perkara perceraian. Dibanding dengan cerai talak atau perkara cerai yang diajukan oleh pihak laki-laki kepada pihak wanita.

Sekian banyak kasus perceraian, faktor tidak bertanggung jawab masih mendominasi alasan bagi kaum hawa di Sultra memilih untuk menyandang status janda. Menyusul faktor tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga, cemburu, krisis moral, ekonomi, penganiayaan berat, kekejaman mental, kawin paksa, dihukum, poligami tidak sehat, politis dan cacat biologis.

“Tahun ini kami menerima 1179 kasus, diantaranya ada 590 kasus perceraian, ditambah dengan 83 kasus cerai yang belum terselesaikan 2015 lalu, maka total 773 ibu rumah tangga bakal menjanda tahun ini,” kata Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kota Kendari, Nadra,S.Ag. Ia mengatakan, sebanyak 688 kasus perceraian sudah diputus sepanjang tahun ini, dan sisanya akan diputus 2017 mendatang.

Ia menyebutkan, setiap bulan mereka menerima antara 32 sampai 81 kasus permohonan cerai, baik itu cerai gugat ataupun talak. Tahun ini, aduan paling sedikit diajukan pada Juni lalu, hanya 33 kasus, sedangkan yang terbanyak pada Januari lalu 81 kasus. “Setiap hari ada saja yang datang mengajukan aduan,” ujarnya.

Setiap tahun penyebab yang mendominasi terjadinya perceraian tidak berbeda jauh, meyoritas disebabkan karena suami yang tidak bertanggungjawab, kedua karena rumah tangga yang tidak harmonis. “80 persen kasus perceraian diadukan oleh masyarakat umum, sisanya dari PNS. Kebanyakan karena suaminya tidak menafkahi dengan baik, ada juga karena bertengkar setiap hari. Sisanya karena cemburu, krisis moral dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” terangnya.

Humas Pengadilan Negeri Agama (PNA) Kendari, Drs. H. M. Tharir H. Salim, MH. mengatakan bahwa faktor yang paling sering itu biasanya soal nafkah. Kemduian, suami berselingkuh, suami main judi, suami suka minum minuman keras. Meski masih banyaknya perkara perceraian di Kendari, ia menjelaskan bahwa, pihaknya berupaya semampunya untuk melakukan perdamaian.
Upaya mediasi menjadi yang utama untuk kasus perceraian selama ini sesuai peraturan Kementerian Agama No. 1 tahun 2016. “Kita berupaya agar kasus perceraian dalam kembali rujuk dengan mediasi. Dalam mediasi tersebut agama menjadi patokan para mediator,” katanya.

Tharir juga menjelaskan bahwa, meski telah dilakukan mediasi harapan untuk kembali rujuk, persentasenya sangat kecil. Menurutnya, jika para pihak memiliki latar belakang agama maka proses mediasi akan berjalan dengan lancar. Namun, berbeda dengan para pihak yang tidak memiliki latar belakang agama.

“Mau pakai pendekatan apapun akan gagal jika salah satu pihak tak memiliki latar belakang agama. Namun kalau ada latar belakang agama itu berbeda. Pernah ada pihak yang memiliki latar belakang agama saat dimediasi itu mudah. Justru pihak tersebut samapai menitikan air mata karena merasa bersalah,” ungkapnya. Ia mengatakan bahwa perceraian itu memang halal namun sekaligus perceraian itu perbuatan yang dibenci oleh Allah. Untuk itu pendidikan agama menjadi faktor penting dalam sebuah pernikahan.

Kekerasan Meningkat
Tingginya angka perceraian itu juga relevan dengan angka kekerasan terhadap perempuan di Sultra. Pada tahun 2014, kasus kekerasan terhadap ibu hanya 8 kasus. Namun pada tahun 2015 meningkat menjadi 18 kasus. Pada hingga November ini, kasus yang ditangani telah mencapai 18 kasus.

Berdasarkan data Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sultra, kasus yang menimpa kaum ibu maupun perempuan kini mulai bervariasi. Bila tahun-tahun sebelumnya, masih didominasi kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Kini, sudah sebanding dengan kasus pelecehan dan penelantaran. Hal yang sama juga terjadi pada kasus anak (perempuan).

Yang menarik, pelakunya adalah orang terdekat korban. Mulai dari orang tua kandung, paman, tetangga hingga atasannya.
“Kalau merujuk pada angka, memang ada peningkatan. Namun juga keberhasilan pemerintah dalam mensosialisasikan program Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BPPPA-KB) Sultra. Selama ini, banyak perempuan yang tidak tahu lembaga ini. Padahal ada lembaga yang memberi penanganan bukan hanya kasusnya, namun juga konseling, pembimbingan, hukum hingga pemberdayaan para korban,” kata Farida, Wakil Ketua P2TP2A Sultra ini, Rabu (21/12) lalu.

Sayangnya, kasus-kasus seperti banyak yang berakhir damai. Melalui pendekatan adat atau kekeluargaan, banyak kasus ini berakhir damai. Apalagi pelakunya memiliki ikatan keluarga. Padahal kasusnya sudah masuk ke ranah pidana. Makanya, beberapa LSM cukup kecewa. Pasalnya, para pelaku tidak mendapat ganjaran. Pada kasus lain, ada pula korban yang mencabut laporannya lantaran diintimidasi.

“Kasus pelecehan seksual yang masuk cukup unik. Ada korban yang diperkosa bapaknya. Padahal yang bersangkutan telah bersuami. Kasus yang sama terjadi di Konawe Selatan (Konsel). Ada pula korban yang dilecehkan sahabatnya. Anak TK yang dilecehkan seorang kakek yang berusia 70 tahun. Selain itu, ada ibu yang diterlantarkan suaminya sehingga harus menghidupi anak-anaknya. Kasus yang ditangani tersebar hampir di semua daerah di Sultra,” kata wanita berhijab ini.(Amal)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top