Kepala BKKBN Apresiasi Pemkab Wakatobi – FAJAR Sultra
News

Kepala BKKBN Apresiasi Pemkab Wakatobi

BKKBN-Wakatobi-1024x682

♦ Bentuk Dinas Khusus soal KB

WAKATOBI – Kepala BKKBN RI, Surya Candra Suryapaty mengapresiasi Pemkab Wakatobi yang membentuk Dinas Keluarga Berencana tersendiri, tidak lagi merger dengan instansi lain.

Kepala BKKBN RI, Surya Candra Suryapaty pukul gong tanda pembukaan seminar umum kesehatan reproduksi dan pertemuan kader KB di Pelataran Taman Sanggar Budaya Kabupaten Wakatobi, Senin (26/12).

“Saya sudah menerima laporan bahwa ke depan di Wakatobi ini badan KB-nya sudah akan berdiri sendiri, tidak lagi merger dengan instansi lain, tidak bergabung dengan Pemberdayaan Perempuan maupun Pemberdayaan Masyarakat Desa, tapi berdiri sendiri mengikuti Undang-undang No. 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah,” kata Surya saat membuka seminar umum kesehatan reproduksi dan pertemuan kader KB di Pelataran Taman Sanggar Budaya Kabupaten Wakatobi, Senin (26/12).

Surya menjelaskan dengan terbentuknya Badan KB itu, tersirat bahwa Pemkab Wakatobi memahami benar program KB adalah penting sebagaimana program pembangunan lainnya. “Keberadaan Badan KB atau Dinas KB yang berdiri sendiri akan sangat membantu kelancaran pelayanan KB dan kesehatan Reproduksi kepada seluruh pasangan usia subur di Wakatobi,” ucap Surya.

Surya bilang, dengan ber-KB secara langsung maupun tidak langsung, sangat membantu memperbaiki dan meningkatkan derajat kesehatan para peserta KB itu sendiri, baik kesehatan reproduksi secara khusus maupun kesehatan para istri secara umum.

Sementara itu, tentang penekanan angka jumlah kelahiran setelah zaman reformasi hingga 2015 melalui program Keluarga Berencana (KB) yang kini di galakkan pemerintah pusat belum mencapai target. Menurut Surya pada zaman kepemimpinan mantan presiden RI kedua, Soeharto, program ini sebenarnya sudah berhasil. Di mana angka kelahiran bayi per ibu sebanyak 2,6 anak mampu ditekan hingga 2,1 anak per ibu.

Namun, setelah masuk masa reformasi, program ini malah ditinggalkan begitu saja. Hal ini kata dia, menyumbang begitu besar jumlah angka kematian ibu melahirkan. “Kalau angka ini tetap di pertahankan, angka kematian bayi dan ibu melahirkan bisa ditekan juga,” tuturnya.

Padahal, menurut ilmu kedoktetan, ibu melahirkan minimal di atas 21 tahun. “Data menunjukkan, dari 288 per 100 ribu angka keuarga hidup, meningkat menjadi 358 pada tahun 2015. Padahal sebenarnya targetnya 102. Jadi data itu otomatis 8 program pada 2015 lalu gagal total. (p14/b/aji)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top