Simak Nih….Sidak ‘Ala’ Disnakertrans di PT VDNI – FAJAR Sultra
News

Simak Nih….Sidak ‘Ala’ Disnakertrans di PT VDNI

KENDARIPOS.CO.ID KENDARI- Sikap tegas dan berani yang ditunjukan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri kala melakukan inspeksi ke PT Huaxing di Bogor, akhir Desember 2016 lalu ternyata tak bisa diteladani anak buahnya di daerah. Bila Hanif datang tanpa negosiasi hingga mendapatkan 38 tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang legal, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sultra justru lebih santun. Saat menyambangi PT Virtue Dragon Nikel Industri (VDNI) di Morosi, institusi ini justru menunggu disambut pihak perusahaan.

“Banyak TKA tadi kerja disini, pas mereka liat mobil patroli, langsung kabur tidak tahu kemana. Begitu memang, tiap ada pemeriksaan pasti mereka lari karena mereka pake visa kunjungan,” kata Doni-disamarkan-seorang pekerja lokal yang kebetulan berdiri di samping jurnalis Kendari Pos.

Tapi lelaki berusia 25 tahun itu langsung diam dan pura-pura mengalihkan pandangan saat seorang HRD perusahaan mendekat ke arahnya. Doni sehari-hari bekerja di tungku Smelter VDNI. Kemarin, Kendari Pos bersama sejumlah media lokal diajak Disnaker berkunjung ke Morosi. Tidak ada hasil istimewa dalam kunjungan Disnaker itu karena pemeriksaan dokumen tenaga kerja dilakukan tertutup dari media, dan baru akan diumumkan hasilnya tiga hari kemudian.

Banyak kejanggalan yang terlihat dari kunjungan Disnakertrans Sultra kemarin. Ada kesan bahwa itu bukan inspeksi tapi “silaturahmi” saja. Pasalnya pihak Disnakertrans yang datang sebelum pukul 10.00 Wita memilih menunggu pihak Virtue Dragon sebelum melakukan pemantauan di lapangan untuk melihat apakah, pekerjaan yang dilakukan tenaga kerja asing (TKA) sudah layak ataukah belum.

Setelah menunggu, pihak Virtue Dragon akhirnya datang. Tapi Disnaker tidak bisa langsung melakukan pemantauan karena waktu jam istirahat para TKA sudah tiba yang akhirnya ditunda. Setelah Pukul 13.30 Wita pihak tenaga kerja yang dibentuk menjadi dua tim, yaitu tim pemeriksaan dokumen TKA dan tim pemantauan pekerjaan TKA. Melakukan pemantauan namun sayangnya pihak tim pemeriksaan dokumen dilakukan tertutup dengan alasan kode etik yang harus diikuti. “Kami mempunyai kode etik,” papar Kepala Bidang Pengawasan dan Hubungan Industrial Disnakertrans Magner Sinaga.

Tim pemantauan pekerjaan TKA yang dipimpin Magner Sinaga, melakukan pemantauan di kawasan tungku Smelter, yang didampingi oleh Gendral Meneger PT VDNI Rudi Rusmandi dan dua orang HRD perusahaan. Kendari Pos yang juga ikut melakukan pemantauan melihat di kawasan tersebut terlihat para TKA yang bekerja adalah TKA yang mempunyai tenaga ahli, salah satunya las.

Namun dalam kawasan tersebut, baik TKA dan tenaga kerja lokal tidak menggunakan perlengkapan pengamanan (sefty) yang baik. Hal tersebut menjadi atensi pihak Disnaker untuk membenahi keamanan pekerja. “Pemeriksaan selanjutnya kalau kami datang, para pekerja harus sudah menggunakan alat pengamanan yang standar, baik itu pekerja asing dan lokal,” tegasnya.

Pekerja lainnya yang ditemui oleh Kendari Pos adalah US (28), mengatakan dirinya sebagai pekerja kasar tidak menggunakan sefty yang memadai. Pasalnya pihak perusahaan tidak memberikan fasilitas tersebut, bahkan sepatu yang digunakan tidak susuai dengan standar. “Untuk dapat helm saja susah. Sepatu yang saya pakai ini sepatu RB. Seharusnya ada sepatu yang disediakan karena pekerjaan disini besi semua kalau dia tindis kaki hancur,” sesalnya.

Wahyu, Supervisor Sefty K3 karyawan yang ikut bersama rombongan Disnaker, saat ditanya mengaku bahwa untuk para buruh kasar, memang pihaknya tidak menyediakan perlengkapan keamanan kecuali helm karena mereka dipekerjakan oleh para kontraktor. “Yang harus sediakan perlengkapan mereka adalah kontraktor,’ paparnya.

Sayangnya, pemeriksaan Disnaker hanya dilakukan di satu kawasan saja. Magner Sinaga yang ditemui usai pemeriksaan mengatakan pemeriksaan yang dilakukannya sesuai dengan beredarnya isu dimasyarakat tentang Virtu Dragon. Menurut pemantauannya pekerjaan yang dilakukan para TKA adalah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh tenaga ahli saja. Jadi memang orang lokal tidak bisa melakukan pekerjaan tersebut karena mereka yang bekerja mempunyai kemampuan.

“Dari keterangan pihak perusahaan, untuk tenaga ahli bidang las memang menggunakan TKA, karena tenaga lokal tidak bisa melakukan, atau kurang ahli. Bahkan pihak perusahaan melatih 30-an warga lokal agar bisa melakukan las sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” paparnya.

Saat ditanya untuk ijin atau visa yang digunakan para tenaga asing, Magner mengatakan pihaknya belum bisa memberikan informasi tersebut, karena pemeriksaan izin dilakukan paling lama tiga hari. Nanti setelah hasil pemeriksaan yang dilakukan diperlihatkan kepada Kepala Dinas, baru setelah itu hasilnya dapat dipublis ke masyarakat melalui media. Sebelumnya Magner Sinaga mengatakan dengan tegas kepada pihak perusahaan bahwa akan mengumpulkan para TKA, dan selanjutnya akan dihitung satu persatu, namun niat Kepala Bidang tersebut tiba-tiba tidak terlaksana. “Kalau mempersulit perusahaan untuk mengumpulkan para TKA, ya sudah tidak usah kami pantau langsung saja,” tuturnya.

Amatan Kendari Pos, pemantauan yang dilakukan oleh tim tidak begitu maksimal, karena tim hanya melakukan pemeriksaan disatu kawasan saja, yakni khusus pekerja yang mempunyai ahli. Disnaker tidak melakukan pemantauan di kawasan lain, yang seperti menerut para pekerja asing sebagai buruh kasar bekerja di kawasan PLTU PT VDNI.

Rudi Rusmadi yang juga ditemui usai melakukan pemantauan di kawasan tungku Smelter, mengatakan jumlah TKA yang bekerja di PT VDNI adalah 942 orang. Jumlah itu kemungkinan akan bertambah setelah perayaan tahun baru Imlek akhir Januari nanti. Pekerjaan yang dilakukan para TKA terbagi dalam 34 kategori salah satunya kategori Pemasangan Tungku Smelter, yang kini telah dikerjakan lima tungku dan akan direncanakan dioperasikan pada tahun ini.

“Untuk totol pekerja lokal adal 1500 lebih, dan rencana akan ada lima belas tungku Smelter akan digunakan. Untuk lima belas tungku itu akan menyerap tenaga kerja lokal sampai 3000 atau 3500 pekerja lokal, jadi persiapkan dirinya saja,” tuturnya.

General Menager juga membantah informasi gaji para TKA yang mencapai Rp 90 juta per bulan, karena menurutnya perusahaan pasti akan rugi menggaji pekerja dengan angka sebesar itu. Gaji pekerja lokal dan pekerja asing tidak jauh berbeda dengan spesifikasi pekerjaan yang sama. Contohnya pekerja lokal dengan tenaga ahli gajinya sampai Rp 4 juta, dan kalau tenaga ahli pekerja asing itu mencapai Rp 7 juta. “Siapa yang mengatakan sampai Rp 90 juta, mana buktinya, karena saya saja tidak tahu gaji mereka berapa,” paparnya.

Rudi terakhir mengatakan berterimakasi dengan pemeriksaan dan pemantauan yang dilakukan tenaga kerja, dan pihaknya mendapatkan teguran keras terkait sefty yang kurang memadai. Karena masih banyak TKA dan tenaga lokal yang bekerja di tempat ketinggian yang belum menggunakan sefty yang standar. “Kami akui alat sefty kami masih sangat kurang, jadi akan kami benahi secepatnya,” tutupnya. (kmr)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top