Gong Xi Sin Cia! Selamat Datang di Tahun Ayam Api – FAJAR Sultra
News

Gong Xi Sin Cia! Selamat Datang di Tahun Ayam Api

Pandita Sasanawati di Vihara Tekad Maitreya Kendari

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI—Besok, tepat 28 Januari 2017, adalah tahun baru Imlek yang dalam penanggalan Tiongkok sudah memasuki tahun 2568. Dalam tradisi Cina, Imlek tahun ini disebut sebagai tahun shio Ayam Api. Kita semua tahu, ayam adalah makhluk pertama yang bangun dan berkokok di pagi hari. Mereka menekankan ketepatan dalam waktu dan sangat fokus. Ayam mengandalkan kerja yang detail.

Shio ayam memiliki energi chi, yang pada dasarnya memiliki unsur elemen logam. Ayam jantan suka sekali memamerkan kekuasaannya dan banyak masalah bisa datang dari sikap mendominasinya. Tapi karena dia juga administrator yang baik dan pengawas yang teliti, maka gejolak yang ada masih dapat teratasi. Jika tidak teratasi maka akan dapat memicu segala macam bentuk perselisihan.

Apakah Indonesia bakal seperti itu di tahun bershio ayam ini? Penuh dengan arogansi, saling lapor, unjuk kekuatan? Entahlah, yang jelas berdasar ramalan, pemerintah di seluruh dunia akan berbusung dada dan bersikap arogan layaknya ayam jantan. Iklim politik berubah dan aksi demonstrasi yang cenderung memanas.

Untuk diketahui, kata Imlek (Im=bulan, Lek=penanggalan) berasal dari dialek Hokkian atau Bahasa Mandarin-nya Yin Li yang berarti kalender bulan (Lunar Newyear). Menurut sejarah, Sin Cia merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di China yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan erat dengan pesta perayaan datangnya musim semi yang bersamaan dengan datangnya musim panen.

Sementara itu, Imam Vihara Tekad Maitreya, Kendari, Pandita Sasanawati tidak terlalu memikirkan soal peruntungan perputaran shio-shio yang ada. Tak ada yang berbeda dalam menyambut pergantian shio setiap tahunnya, semua dijalani dengan optimis. “Kami tidak terlalu menganut paham shio yang mengatakan bahwa tahun ini baik atau tahun ini tidak baik,” kata Pandita saat ditemui di Vihara Maitreya, Kemaraya, Kendari, Rabu (25/1).

Meski demikian, Pandita menjelaskan bahwa ayam merupakan lambang hewan yang memiliki ketelitian, kerajinan dan semangat tinggi. Artinya, tahun ini dalam menggapai tujuan harus dibutuhkan kerajinan, ketelitian dan semangat tinggi. “Kita sendiri memandang bahwa tahun ini harus dijalani dengan kerja keras maka kita bisa panen atau membuahkan hasil yang maksimal,” jelas Pandita.

Sementara lambang api sendiri itu memiliki makna kehangatan dan memberi penerangan. Namun, disisi lain juga api dapat memberikan makna ledakan. “Satu sisi api dapat memberikan kehangatan. Namun disisi lain ledakan bisa terjadi, itu artinya soal emosi masyarakat di tahun ini lebih tinggi dalam menghadapi sesuatu,” kata Pandita.

Disinggung keadaan bangsa, berdasar shio ayam api sendiri Pandita memita masyarakat untuk memandangnya secara positif. Secara umum pun Pandita tak bisa menjelaskan lebih rinci keadaan bangsa berdasarkan shio ayam api. “Memang berdasar pantauan media yang ada, keadaan saat ini sedang hangat. Namun itu kembali pada diri kita masing-masing untuk menciptakan sebuah keadaan,” katanya.

Menurutnya, setiap shio yang berganti itu merupakan sebuah signal untuk kita dapat mempersiapkan diri. Jadi, setiap pergantian shio tak perlu dipandang negatif. “Shio itu hanya sebuah signal mengenai gambaran keadaan masa akan datang. Jadi, kita tidak perlu menyikapi secara berlebihan. Kita harus memiliki cara untuk menghendel kejadian-kejadian yang dikabarkan akan terjadi,” kata Pandita.

Ia juga mengatakan, ketika peruntungan dan nasib buruk yang sudah dikabarkan seharusnya manusia sudah siap untuk menghadapinya. “”Agama boleh berbeda tapi kita tetap satu, kita Indonesia. Bahasa dan budaya boleh berbeda tapi kita tetap satu sebagai masyarakat Indonesia. Sehingga shio apapun yang datang tidak gampang terombang-ambing dengan keadaan yang ada,” imbuhnya.

Pandita menjelaskan bahwa Makna peruntungan shio pun dapat dipahaminya setelah melewati perjalanan hidup. Sehingga dalam perjalanan hidup tersebut membuka pemahaman terkait makna shio sendiri. “Jangan karena dikabarkan shionya akan mendapatkan nasib jelak berdasar hitungan shio, langsung pesimis menjalani hidup. Tetaplah berusaha, jangan mau dikuasai dengan masalah, berusahalah untuk membalikan keadaan dan menguasainya,” jelas Pandita.

Saat ditanyakan terkait dengan shio yang akan mendapatkan peruntukan di tahun ayam api ini Pandita mengatakan, shio yang akan mendapatkan peruntungan ditahun ayam api adalah, mereka yang bershio Kerbau, Naga, Monyet, Kuda dan Anjing. “Untuk shio yang kurang baik peruntungannya di tahun api adalah Shio kelinci tikus dan kuda, harimau rada payah juga,” ujarnya.

Disinggung soal persiapan menghadapi Imlek, Pandita Sasanawati menjelaskan banyak hal yang harus dipersiapkan dalam perayaan malam tahun baru Imlek. Pertama persiapan diri dengan cara introspeksi mengingat dosa yang telah dilakukan oleh umat tersebut. Karena di malam pergantian tahun Imlek nanti, akan menjadi pembersih seluruh dosa yang telah dilakukan.

“Para umat, saya suruh mereka untuk pulang ke rumah masing-masing untuk introspeksi, apa dosa yang telah dilakukan selama satu tahun. Kemudian direnungkan dengan baik,” katanya. Persiapan selanjutnya adalah pembersiham Vihara dan rumah serta pemasangan Lampion, sebelum melaksanakan ibadah harus melakukan pembersihan Vihara, dengan cara bersama-sama.

Lampion menurut keyakinan umat Budha adalah penerang hidup dan petunjuk, di lampion tersebut juga para umat menggantungkan harapannya agar selalu cerah dan selalu dalam bimbingan yang maha kuasa. “Pembersihan Vihara adalah persiapan yang nampak, dan wajib dilakukan oleh seluruh umat Budha, agar dalam menjalankan ibadah, Vihara dalam keadaan bersih dari noda-noda dunia,” paparnya.

Selain itu ada juga beberapa yang dipersiapakan yaitu buah dan makanan yang masing-masing mengandung makna. Seperti buah apel yang melambangkan keselamatan, kesejahtraan agar dalam setahun kedapan akan diberikan keselamatan kepada yang kuasa. Jeruk Mandarin, melambangkan kelancaran dalam menghadapi rintangan hidup. Buah Tebu melambangkan kemanisan setahun kedepan hidup selalu ceria, dan buah Naga melambangkan kejayaan dengan harapan bisa menjadi seorang yang makmur dan berjaya. “Untuk kue keranjang, itu melambangkan kebersamaan yang ceria dan bersatu dalam kemanisan,” paparnya.

Sasanawati juga menambahkan beberapa ritual yang dilakukan sebelum menyambut tahun baru Imlek. Salah satunya sembahyang yang dilakukan H-7 Imlek. Itu dilakukan untuk menghantarkan Dewa dapur menghadap Nirwana. “Jadi seluruh amal perbuatan baik maupun buruk dibawa oleh dewa ke Nirwana. Ritual selanjutnya adalah H-6 sampai dengan H-1, yaitu pencucian patung Budha. Pada malam pergantian Imlek, akan dilakukan lagi sembahyang untuk menyambut Dewa dapur turun ke Bumi dengan membawa berkah. Gong Xi Sin Cia (***)

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top