Kompensasi Lahan dari PT VD Diduga Salah Sasaran – Fajar Sultra
News

Kompensasi Lahan dari PT VD Diduga Salah Sasaran

MARWAN TOASA/BERITA KOTA KENDARI
MASALAH KOMPENSASI. Kuasa hukum pemilik lahan, Samsuddin SH saat mengamati aktifitas tambang

ANDOOLO, BKK- Konflik antara masyarakat Kecamatan Pallangga, Konawe Selatan dengan perusahaan tambang kembali mengemuka. Kali ini, warga dari Desa Kiaea dan Desa Watumerembe, mempersoalkan masalah kompensasi dari hasil pertambangan yang diduga salah sasaran.

Untuk membahas masalah tersebut, perwakilan masyarakat serta Pemerintah Kecamatan Palangga rencana akan melakukan pertemuan dengan pihak perusahaan PT Tridaya Jaya (TJ) selaku pengelolah Izin Usaha Pertambangan PT berinisial VD, di rumah jabatan Camat Palangga, Kamis (2/2), hari ini.

Pertemuan tersebut guna membicarakan beberapa tuntutan warga desa pemilik lahan agar diakomodir pihak perusahaan sesuai hasil mediasi sebelumnya.
Kuasa hukum para pemilik lahan, Samsuddin SH kepada wartawan menjelaskan, PT TJ yang mengolah di atas IUP PT VD yang terletak di Desa Kiaea, untuk sementara ini dihentikan aktivitasnya oleh masyarakat pemilik lahan.

Pasalnya, perusahaan tersebut dianggap tidak memiliki perjanjian atau kesepakatan dengan masyarakat pemilik lahan. “MoU ini salah satu agenda pertemuan besok antara pemilik lahan dan perusahaan yang dimediasi oleh pemerintah kecamatan Palangga. Dan juga sebagai dasar kekuatan hukum pemilik lahan,” terang Samsuddin kepada wartawan, Rabu (1/2).

Dia mengakui, memang ada perjanjian yang ditunjukan pihak perusahaan yang dibuat pada 2013 lalu. Namun itu bukan dibuat oleh pemilik lahan yang sah, melainkan oleh kelompok orang yang arealnya tidak masuk dalam lokasi pengolahan PT VD.

“IUP PT VD seluas 700 hektar. Namun berdasarkan verifikasi oleh pihak PT VD dan masyarakat pada tahun 2013, yang sempat terolah hanya 41 hektar saja dengan pemilik lahan terdaftar sebanyak 65 orang. Sementara yang membuat surat penjanjian itu kelompok orang diluar dari areal 41 hektar itu,” tegasnya.

Pada tahun 2013, PT VD melalui kontraktor miningnya, yakni AWP, telah menjual ore 20.000 metrik ton kepada PT Kimling melalui PT Sambas. Namun, hasil penjualan ore yang nilainya diperkirakan mencapai Rp 170 juta itu tidak dibagikan kepada pemilik lahan 41 hektar tersebut sebagai uang konpensasi, tetapi diberikan kepada kelompok orang yang berada di luar areal 41 hektar itu.

“Jumlah ore yang dijual dikalikan dengan harga saat itu kurang lebih Rp 8.000 per metrik ton, jadi totalnya sekitar Rp 170 juta. Tetapi itu hanya diberikan kepada orang orang di luar areal 41 hektar yang berjumlah 16 kelompok dan masing-masing kelompok mendapatkan Rp 5 juta sebagai konpensasi masyarakat,” bebernya.

Selain itu, kata dia, masyarakat juga mempertanyakan sisa uang hasil penjualan ore pada tahun 2013 yang sampai saat ini belum diberikan kepada pemilik lahan yang sah. “Jika dihitung uang yang diberikan sebagai kompensasi, dikalikan dengan 16 kelompok, itu hanya mencapai Rp 80 juta saja. Dengan demikian, uang yang tersisa masih ada Rp 90 juta dari Rp 170 juta. Ke mana itu sisanya?,” tanyanya.

Sementara itu, Camat Palangga, Jalil S Sos M Kes saat dikonfirmasi membenarkan adanya rencana pertemuan antara warga pemilik lahan dan pihak perusahaan. “Iya besok (Kamis) ada pertemuan dimulai pada jam 8 pagi. Undangannya sudah dibuat dan undangan itu telah diberikan kepada pihak perusahaan dan para kepala desa. Ini dilakukan dalam rangka mendengar tuntutan warga pemilik lahan yang terkena lokasi penambangan yang nantinya akan diakomodir pihak perusahaan berdasarkan bukti fisik yang ada,” jelasnya Jalil.

Jalil yang baru beberapa minggu menjabat sebagai camat palangga itu mengatakan, selain membahas soal kompensiasi, pihaknya juga akan menyampaikan keluhan masyarakat mengenai dampak lingkungannya. Pasalnya, air sungai di beberapa desa, mulai berubah dan itu diduga akibat aktivitas pertambangan.

“Saya sudah lihat ada kali yang tertutup dan airnya sudah berubah yang tadinya jernih, sekarang keruh. Dan ini dialami oleh beberapa desa, yakni Desa Watumerembe, Wawonggura dan Eewa,” katanya.

Masih ada lagi. Mahasiswa dari desa setempat juga ingin tahu apakah ada pos bantuan untuk mereka. (k8/aha)

Berita Kota Kendari

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top