Pakar Komunikasi: Program ADP-Sul Lebih Membumi – Fajar Sultra
News

Pakar Komunikasi: Program ADP-Sul Lebih Membumi

KENDARI – Debat publik kedua pemilihan Walikota Kendari telah selesai diselenggarakan tadi malam. Tiga pasangan calon yang akan bertarung pada 15 Februari telah menyampaikan visi-misinya.

Pengamat Komunikasi Politik UHO Dr. Najib Husein menilai pasangan calon nomor urut dua ADP-Sul unggul dari sisi program yang disampaikannya dalam debat publik.

Disusul nomor urut tiga dari pasangan Zayat-Syahriah, dan posisi terakhir adalah nomor urut satu Rasak-Haris.

“Program yang disampaikan ADP-Sul jauh lebih membumi atau sangat mikro, dibandingkan pasangan nomor urut tiga dan lebih–lebih pasangan nomor urut satu,” tuturnya.

Hal itu terlihat dari penjelasan pemaparan pasangan ADP dari topik-topik yang diketengahkan, selalu ada program yang membumi.

Seperti, konsep smart city melalui kota berbasis IT, guna penataan kota secara terintegrasi, misalnya pada pelayanan perijinan berbasis IT yang bisa diakses melalui android. Maupun menghadirkan kendaraan keliling untuk melayani E-KTP.

Begitu pula pasangan nomor urut tiga, misalnya yang mengemukan sejumlah solusi untuk mengatasi masalah yang diketengahkan. Seperti menjamin tidak ada lagi anak yang putus sekolah di kota Kendari, atau nongkrong di perempatan jalan.

Program yang disampaikan dari debat publik, oleh ADP-Sul sangat spesifik dan cukup mikro atau konkrit, disusul pasangan nomor urut tiga, jika dibandingkan dengan program yang disampaikan pasangan nomor urut satu yang masih sangat umum atau makro.

Sedangkan dari sisi pengusaan forum, pasangan nomor urut satu lebih menguasai, disusul pasangan nomor urut dua, dan terakhir adalah pasangan nomor urut tiga. Hal itu lanjutnya terlihat jelas dalam pelaksanaan debat publik tadi malam.

Dirinya juga menilai, pada pelaksaan debat publik kali ini, panitia kurang memperhatikan settingan pertanyaan yang diajukan kepada ketiga pasangan calon. Harusnya tiga topik tidak dipisahkan ke masing-masing pasangan calon, melainkan tiga topik besar tersebut harus diuraikan oleh masing-masing pasangan calon.

“Sehingga bisa ketahuan pokok-pokok pikiran dari pasangan calon dalam menyelesaikan masalah, atas topik yang dikemukakan,” tutur pakar komunikasi politik UHO Dr Najib Husein kepada Rakyat Sultra tadi malam.

Settingan pertanyaan yang berasal dari panita, lebih banyak pengulangan, sehingga waktu yang terbatas tersebut kurang mampu dimaksimalkan, untuk bisa mendalami pokok pikiran dari masing-masing pasangan calon.

Selan itu juga, lanjutnya, dari sisi komunikasi, terlihat jelas moderator yang diambil tidak menguasai forum debat, sebab komunikasi yang berlangsung hanya berjalan normatif saja. Sebab moderator tidak memiliki memahaman mendalam mengenai kondisi kota yang dipertanyakan dalam debat.

“Harusnya, karena ini merupakan debat publik terakhir, panitia lebih memperhatikan aspek teknis debat. Salah satunya moderatornya, harus orang yang memiliki kemampuan memahami kondisi daerah,” tutupnya.

Baginya, jalan debat publik tadi malam belum cukup memuaskan. Sebab hanya hal dari debat publik yang harusnya ter-eksplor atau terungkap, namun ternyata tak mampu dimunculkan. (ags)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top