Kasek SMPN 1 Wadaga Resmi Ditahan – FAJAR Sultra
News

Kasek SMPN 1 Wadaga Resmi Ditahan

RAHA – Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 1 Wadaga Kabupaten Muna Barat (Mubar), Drs Salilin resmi ditahan atas dugaan kasus penganiayaan terhadap dua siswanya A (12) dan R (12) yang terjadi pada Senin (6/2)

“Tersangka sudah kami tahan,” kata Kapolres Muna, AKBP Yudith Satriyah melalui Pelaksana Kasat Reskrim Polres Muna, AKP Muh. Ogen Sairi, Kamis (9/2).

Mantan Kapolsek Katobu ini menerangkan, penahanan terhadap tersangka dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. “Kami tahan agar tidak melebar,” ujarnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatanya, tersangka dijerat pasal 80 ayat 1 tentang UU perlindungan anak dan pasal 351 KHUP dengan ancaman pidana minimal 5 tahun penjara. “Perkara ini, kami akan tuntaskan secepatnya. Kami tengah merampungkan bukti-bukti dan pemeriksaan saksi-saksi,” terangnya.

Sementara itu, salah satu korban yang dianiaya sang kasek masih menjalani perawatan di RSUD Muna. Dia adalah A. A dirawat karena sering merasakan pusing dan muntah-muntah dirumahnya. A juga masih merasakan sakit di bagian kepalanya.

Saat Rakyat Sultra menyambangi ruang perawatan, A masih terbaring di ruang Anggrek RSUD Muna. Ditemani ibunya, Wa Ode Amuni serta keluarganya. “Anak saya mengeluh sakit kepala dan pusing-pusing. Hari Senin dua kali muntah-muntah. Hari ini (Rabu, red) dia muntah lagi. Jadi saya bawa di rumah sakit, karena tadi malam dia mengeluh sakit kepalanya. Tidak bisa makan dan tidak bisa tidur,” tutur Amuni.

Di RSUD Muna, jurnalis koran ini juga sempat menemui R, rekan lain yang dianiaya Salilin. R sempat menceritakan kronologis hingga dianiaya sang kepsek. Pada Selasa, (31/1), dia dan A bermain tanya jawab tentang apa yang dimaksud dengan Insani dan Rajiun-Ahmad Lamani. “Saya bertanya sama A. Dia menjawab, Insani adalah orang baik, sementara Rajiun pembohong,” kata Rezky.

Tebak-tebakan itu diketahui salah seorang guru di sekolah itu. Tapi, masalahnya selesai saat itu juga. “Guru itu bilang sama kami, tulisan yang kami buat bukan masalah kecil, tidak boleh diulangi lagi. Kami berdua menjawab. Iya pak,” cerita R.

Sepekan berlalu, saat mata pelajaran Matematika. Sang guru Ibu Masria. mengungkap lagi masalah itu. Ibu Masria bilang, ada masalah di kelas. Semua siswa tidak tau masalah apa yang dimaksud. Tapi menurut teman-teman R, masalah itu adalah soal tanya jawab pekan sebelumnya.

“Dengan temanku, spontan saya angkat tangan. Kami dibawa ke kantor menghadap kepala sekolah. Kami diminta menulis kembali apa yang kita mainkan. Setelah dibaca, kepala sekolah langsung marah. Dia tanya kami, siapa yang suruh tulis ini?. Amenjawab, tidak ada. Kepsek langsung menampar A sampai keluar darah dibibirnya. Kepala sekolah bertanya lagi sama saya. Kotau siapa ini Pak Rajiun? saya jawab, tidak pak?. Saya ditampar juga dua kali. Lalu, A dipukul lagi kepalanya sampai bengkak. Setelah itu, dia tanya lagi, mungkin bapakmu yang suruh tulis begini? Kami jawab, tidak pak. Kemudian dia pukul kepalaku dan kami berdua ditendang sampai memar-memar,” tutur R dengan nada polos.

Insiden belum berhenti. A ditanya lagi siapa nama bapaknya. Ketakutan, A menjawab nama orang tuanya La Udu. “Kepala sekolah malah sempat angkat kursi sambil mengancam akan memukulkan kursi itu sama A, tapi tidak jadi,” tambah R.

Kepala sekolah sempat ke luar ruangan. “Dia masuk lagi dan mengatakan mulai hari ini kalian jangan sekolah lagi di sini, sambil mendorong kami keluar dari ruangannya. Saat kami jalan ke kelas untuk ambil tas, kami berdua ditendang dan dipukul dari belakang sampai ke ruangan kelas. Setelah ambil tas, kami keluar sekolah. Kami takut pulang ke rumah, jadi kami menunggu di luar sekolah sampai jam pulang,” cerita R.

Ketua PGRI Mubar Al Rahman bersama PGRI se-kecamatan di Mubar, Rabu (8/2) mendatangi Polres Muna. Dia meminta Polres agar Kasek Salilin dibebaskan secara bersyarat. “Karena kita bedah dari aturan tidak terlalu berat masalahnya. Ancamanya dibawah lima tahun sehingga kita meminta agar bebas bersyarat,” ucap Al Rahman.

Dia bilang PGRI telah melakukan langkah-langkah persuasif. Apalagi kedua korban merupakan kemanakan pelaku sendiri. “Kita juga dijamin Undang-undang untuk memberikan sanksi kepada murid. Jika kita berikan sanksi kemudian orang tua siswa melaporkan kepada polisi maka tidak akan adalagi guru yang mau mengajar,” katanya. (p1-sra/b/aji)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top