Pelaku Pariwisata Diajak Awasi Kawasan Konservasi – Fajar Sultra
News

Pelaku Pariwisata Diajak Awasi Kawasan Konservasi

WANGIWANGI– World Wildlife Fund (WWF) Indonesia kembali mengajak pelaku pariwisata turut mengawasi wilayah konservasi perairan melalui aplikasi “Marine Buddies”. Bukan hanya di Taman Nasional Wakatobi (TNW), Kabupaten Wakatobi, Sultra, namun kampanye tersebut dilakukan dibeberapa wilayah konservasi lainnya yang jadi lokasi pariwisata lainnya.

Southern-Eastern Sulawesi (SBS) Coordinator WWF-Indonesia Noverica W mengatakan “Marine Buddies” juga telah disosialisasikan di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, yang juga menjadi bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Nasional Laut Sawu.

Secara otomatis, aplikasi itu baru bisa bekerja jika pengguna berada di salah satu dari 165 kawasan konservasi bahari, seperti Wakatobi, Raja Ampat, Buleleng, Pulau Alor, Selat Lasolo. Sehingga pelaku pariwisata langsung bisa melaporkan apa yang diamati dilapangan.

“Aplikasi ini akan memberikan laporan dalam bentuk penilaian ataupun laporan langsung. Sehingga semua pelaku, baik masyarakat, wisatawan ataupun pengamat bisa menilai langsung apa yang dilihat dan diamati saat berada dilokasi. Sehingga diharapkan dapat ditindaklanjuti oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),” katanya baru-baru ini saat melakukan kampanye “Marine Buddies” di Wakatobi.

Project Leader WWF-Indonesia Sugiyanta mengatakan dengan adanya aplikasi “Marine Buddies” maka pelaku pariwisata di lokasi konservasi bisa menyosialisasikan kepada wisatawan dalam rangka menjaga dan mengawasi wilayah konservasi pearian ini khusunya di Wakatobi.

Apalagi, pelaku pariwisata punya peran besar dalam membantu mengawasi wilayah konservasi di Wakatobi. Dengan luas kawasan 1,3 juta hektare dan keterbatasan jumlah sumber daya manusia untuk mengawasi, maka semua komponen di kawasan terebut punya andil membantu melakukan pengawasan.

“Jadi memang bukan hanya pemerintah saja yang memiliki tanggungjawab, namun semua pihak masyarakat, wisatawan ataupun mereka yang berkunjung di kawasan konsevasi bahari punya tanggungjawab yang sama dalam menjaga dan mengawasi kawasan konservasi bahari,’ tutur Sugy.

Dengan begitu, diharapkan laporan atau penilaian yang dilakukan semua pelaku pariwisata dapa langsung ditindaklanjuti oleh kementerian terkait seperti KLHK dan KKP. Sehingga setiap triwulan atau enam bulan sekali pemerintah daerah bisa mendapatkan hasil dari laporan atau tindak lanjut apa yang bisa dilakukan.

Aktor yang juga merupakan penggiat kegiatan luar ruang Ramon Tungka yang ikut menyosialisasikan aplikasi “Marine buddies” kepada kelompok ekowisata dari Kaledupa di Pulau Hoga, Wakatobi, menyampaikan apresiasi kepada kaum muda Desa Sombano dan Desa Pajam di Pulau Kaledupa, Wakatobi, yang menjalankan ekowisata meski tanpa bantuan atau bimbingan pemerintah daerah.

Manfaat aplikasi ini menurut dia, selain dapat membantu pengawasan wilayah konservasi, otomatis juga menjadi motivasi bagi para pelaku sektor pariwisata memperbaiki pelayanan dan menjaga kondisi lokasi mereka sendiri untuk menarik wisatawan lokal maupun asing.

Pengawasan dengan menggunakan aplikasi ini menjadi bagian dari kampanye bertajuk #TemanTamanLaut oleh WWF-Indonesia yang bertujuan untuk fokus melakukan pengawasan dan perlindungan karena kawasan konservasi maupun lindung di perairan.

Sebelumnya rombongan WWF Idonesia bersama rekan media menemui Kepala Bappeda Wakatobi Saediman. Pihaknya mengapresiasi kampanye Marine Buddies yang dilakukan WWF Indonesia dalam rangka membantu pemerintah mengawasi kawasan konservasi. Harapannya, bisa memberikan informasi dan data yang dihasilkan juga bisa dibagikan ke pemerintah kabupaten sebagai informasi untuk perbaikan. (rs)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top