SERUNYA HALO SULTRA Dari Kupu-kupu Hutan hingga Industri Cokelat Rumahan – Fajar Sultra
News

SERUNYA HALO SULTRA Dari Kupu-kupu Hutan hingga Industri Cokelat Rumahan

LA ODE ADNAN IRHAM/BERITA KOTA KENDARI
MASKOT BUTON. Model membawakan kostum Kupukupu Hutan Lambosango dalam Karnaval HUT Sultra, sebagai maskot Kabupaten Buton.

DARSO/BERITA KOTA KENDARI
SAVE MANGROVE. Gubernur Sultra, Nur Alam menunjukkan pamflet bertuliskan Save Mangrove di hadapan rombongan karnaval dari Buton Utara.

ABDUL RAHIM/BERITA KOTA KENDARI
TAK KALAH LEZATNYA. Berbagai produk hasil olahan pertanian dipamerkan di stan milik Pemkab Koltim. Salah satunya adalah Coltim atau Cokelat Koltim.

Tim penulis :
La Ode Adnan Irham
Darso
Fitri Azhari
Abdul Rahim

KENDARI, BKK- Hari Ulang Tahun adalah pesta. Dan inilah yang dipersembahkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara untuk masyarakat melalui Halo Sultra yang tahun ini dipusatkan di Tugu Religi Kota Kendari.

Bahkan sebelum dibuka secara resmi oleh Gubernur Sultra, Nur Alam, Minggu (23/4) malam, ribuan masyarakat sudah menjejali kawasan Tugu Religi, yang kini tampil lebih indah setelah dipoles oleh Pemprov Sultra. Tak hanya dari Kendari, masyarakat daerah lain, ikut menikmati sajian pesta Halo Sultra ini.

Halo Sultra yang mengintegrasikan Pameran Pembangunan skala provinsi pun turut dimeriahkan oleh seluruh 17 kabupaten/kota. Stan-stan didirikan. Berbagai potensi daerah dipertontonkan agar bisa dilihat langsung oleh masyarakat.

Dengan berbagai cara, para penghuni stand merayu pengunjung untuk datang dan masuk melihat data dan fakta potensi yang ada di daerah. Ini tentu tidak mudah. Karena satu stan kecil ini, harus menjadi miniatur satu kabupaten/kota.

Stan Kabupaten Kolaka Timur, misalnya, memamerkan produk-produk pertanian, mulai cabai berbagai jenis, jagung dua tongkol, sayur-sayuran dan buah-buahan. Namun yang unik dan cukup menyita perhatian pengunjung adalah produk olahan rumah tangga, terutama Coltim (Cokelat Koltim), sambal cabe dan tomat, sirup pisang ambon hingga gula merah.

“Semua olahan ini berasal dari produk kita sendiri. Pemerintah memberikan dukungan yang sangat besar,” kata Kepala Bappeda Koltim, Mustakim Darwis.

Produk pertanian juga menjadi andalan dalam stan milik Pemkab Butur. Namun yang membuatnya berbeda adalah, produk yang dipamerkan semuanya organik alias tak tersentuh zat kimiawi. Diantara produk organik yang dipamerkan adalah beras merah Kambowa, dan umbi-umbian.

Selain pangan organik, Butur juga memamerkan sejumlah kerajinan daerah. Seperti kain tenun, kerajinan Nentu, dan pernak-pernik lainya yang merupakan produk lokal Butur. Serta tarian-tarian khas daerah.

Bupati Butur, Abu Hasan menjelaskan, Butur kini mengarah pada daerah penghasil produk organik.

“Kalau Jokowi dalam program nawacitanya mencanangkan ribuan desa organik, Buton Utara satu satunya kabupaten di Indonesia yang telah siap mencanangkan daerahnya sebagai kabupaten organik. Bukan desa organik. Dengan harapan nantinya Butur juga siap menyuplai bahan pangan sehat yang aman dikonsumsi oleh semua kalangan masyarakat,” jelasnya.

Namun di antara semua stan, harus diakui bahwa stan Pemkab Munalah yang paling unik. Stan Muna berbentuk rumah panggung, di mana lantai satu dan duanya masing-masing punya fungsi yang berbeda.

Di lantai satu digelar produk khas Muna, seperti aneka kuliner, kerajinan ukir dari kayu jati dan kerajinan tangan lainnya. Di sini juga bergema musik khas Muna untuk menghibur pengunjung.

Sedangkan lantai atas dipamerkan berbagai jenis kain tenun khas Muna. Tak hanya produk, tapi juga ada tempat khusus belajar menenun.

Bupati Muna, LM Rusman Emba berharap seluruh potensi daerah yang ditampilkan dalam stan tersebut bisa diketahui oleh lebih banyak khalayak, sehingga lebih banyak lagi orang yang tertarik untuk datang ke Muna.

Kemeriahan Halo Sultra pun masih berlanjut Senin (24/4). Memanfaatkan hari libur nasional, seluruh daerah mengikuti karnaval dengan menampilkan ciri khasnya. Salah satunya Kabupaten Buton, yang tampil dengan maskot Kupukupu Hutan Lambusango, hutan yang dimiliki Kabupaten Buton.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buton, Zainuddin Napa menjelaskan, Kupukupu Hutan Lambusango merupakan jenis kupu-kupu yang endemik alias hanya bisa ditemukan di Buton, khususnya Hutan Lambusango. Dia berharap dengan menjadikan kupukupu ini sebagai maskot, publik bisa tahu bahwa ada banyak hal menarik dan unik di Buton.

“Ada banyak jenis hewan endemik lainnya. Tapi kupukupu ini termasuk yang paling sering diteliti ilmuan, mahasiswa dari dalam maupun luar negeri,” katanya.

Selain itu kabupaten yang dipimpin Samsu Umar Abdul Samiun dan La Bakry itu juga menampilkan kekayaan alam dan hayati yang ada. Termasuk pakaian adat sentuhan Buton yang diikuti 150 rombongan kontingen.

“Kota Baubau memiliki Benteng terluas di dunia, dan Wakatobi karang terbanyak di dunia, yang sudah menjadi icon tersendiri masing-masing daerah itu, di Kabupaten Buton Hutan Lambusango adalah paru-paru dunia.

Lain lagi dengan Buton Utara. Dalam karnaval ini, Butur menampilkan Putri Mangrove dan Tenun Katamba Gawu sebagai maskotnya.

Penampilan Sang Putri Mangrove ini pun sukses menarik perhatian warga. Tak terkecuali Gubernur Sultra Nur Alam. Saat rombongan karnaval Butur melewati panggung kehormatan, Nur Alam langsung berdiri dan mengangkat sebuah spanduk bertuliskan “Save Mangrove (Selamatkan Hutan Mangrove)”.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Butur, Harlin Hari menuturkan, pihaknya sengaja menampilkan Putri Mangrove untuk menyampaikan pesan bahwa kabupaten yang kini dipimpin Abu Hasan itu sangat serius menggarap sekaligus menjaga kawasan mangrovenya. Dan memang Butur memiliki kawasan Hutan Mangrove yang sangat luas.

“Ikon kita tampilkan untuk memperkenalkan mangrove. Di dalam manggrove itu dikelilingi hasil laut, ada udang, kepiting, dan potensi wisata,” tutur Harlin.

Di samping itu, Butur juga mengangkat Tenun Katamba Gawu untuk menegaskan bahwa daerah yang terletak di utara Pulau Buton itu, kaya dengan warisan kebudayaan. Katamba Gawu sendiri memiliki beragam jenis corak dan warna. namun dikhususkan untuk perempuan.

“Ini untuk mempertegas bahwa di Butur itu banyak karya tenun yang indah-indah,” tuturnya.

Rombongan Butur sendiri terdiri dari 250 orang yang terdiri atas jajaran SKPD, Dekranasda, Tim Penggerak PKK, serta tokoh masyarakat.

Rombongan karnaval lain yang juga menjadi perhatian adalah Kabupaten Muna. Kali ini, Muna mengusung Gua Liang Kobori serta Kain Tenun Muna sebagai maskotnya. Keunikan Gua Liang Kobori ini ditampilkan dengan dekorasi relief lukisan purba. Rombongan 200 orang yang dipimpin Sekretaris Daerah Muna, Nurdin Pamone ini juga menampilkan layang-layang yang diklaim sebagai yang tertua di dunia.

Dengan penuh semangat, rombongan karnaval dari Muna terus meneriakkan slogan ‘Mai Te Wuna’, ‘Ayo Datang ke Muna’. Mereka juga mempersembahkan cinderamata berupa kain tenun istimewa kepada Gubernur Sultra, Nur Alam, saat melintas tribun kehormatan. Kain tenun tersebut berbahan pewarna alam yang digarap oleh tiga penenun ahli asal Desa Masalili, yakni Wangkululi, Wa Opa dan Wa Erni.

Kabag Humas Pemkab Muna, Amiruddin Ako menjelaskan, Gua Liang Kobori adalah salah satu destinasi wisata andalan di Muna. Sementara kain tenun merupakan produk lokal warisan leluhur namun sudah menembus pasar internasional. (*/aha)

Berita Kota Kendari

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top