Mahasiswa Akper Demo Pemkab – Hacked by TryDee
News

Mahasiswa Akper Demo Pemkab

RAHA – Praktik politik di Kabupaten Muna tak hanya berlaku dalam perebutan kekuasaan, juga terjadi dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, khususnya di Akademi Keperawatan (Akper) Pemkab Muna. Ditandai dengan dualisme kepengurusan, yakni kepengurusan lama di bawah komando, mantan Direktur Akper, Shanty, dan kepengurusan baru di bawah komando La Ode Ondo.

Teranyar, Selasa (25/4), ratusan mahasiswa Akper yang memilih bergabung dengan Yayasan Sowite, menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan DPRD Muna. Aksi tersebut dipicu karena mereka merasa terusir ketika akan menjalankan praktik di Puskesmas-puskesmas di Kabupaten Muna. Hal itu disebabkan munculnya surat yang diteken Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Muna, Hasdiman Maani yang meminta, agar mahasiswa Akper Muna yang melaksanakan praktik di Puskesmas, ditinjau kembali.

Mahasiswa Akper Muna yang dikoordinir Zalino, menunut Sekretaris Dinkes Muna mengklarifikasi maksud dan tujuan mengeluarkan surat edaran peninjauan kembali mahasiswa yang melakukam praktik di puskesmas.

Sebagai mahasiswa kata Zalino, mereka tak ingin diperhadapkan dengan persoalan dualisme kepengurusan di tubuh Akper Muna. Yang mereka tahu hanya ingin menuntut ilmu. “Kami minta jangan politisasi dunia pendidikan. Kami tidak urus dengan dualisme yang terjadi saat ini. Tugas kami hanya mau belajar,” protes Zalino.

Mereka juga meminta Dinkes segara mencabut surat edaran agar mahasiswa dapat praktik kembali di puskesmas. Alasanya, Dinkes tidak punya hak melarang mahasiswa melakukan praktik di puskesmas.

Sementara itu Hasdiman Maaini, Sekretaris Dinkes menjelaskan alasan keluarnya Surat Edaran dimaksud, karena adanya dualisme kepengurusan Akper, sehingga mahasiswa belum disahuti untuk melaksanakan praktik di Puskesms.

Hasdiman menegaskan bahwa kepengurusan Akper yang sah adalah kepengurusan Akper yang baru di bawah kepemimpinan La Ode Ondo. “Coba tunjukan, mana SK pendirian Akper Yayasan Sowite. Yang diakui saat ini adalah Akper Pemda Muna. Kami lakukan ini untuk menyelamatkan mahasiswa,” alas Hasdiman.

Lanjutnya, kalau mahasiswa mau menimba ilmu silahkan mengikuti proses belajar-mengajar di Akper Pemda Muna sambil menunggu proses peralihan status. “Saat ini urusan peraliahan status tengah berproses. Kalau mahasiswa mau kuliah, silahkan ke Akper Pemda,” ajaknya.

Aksi unjuk rasa mahasiswa Akper di Kantor Dinkes Muna nyaris ricuh lantaran pernyataan La Kuanto yang mengaku sebagai staf khusus Bupati Muna. Di hadapan mahasiswa yang berunjuk rasa, mantan asisten I Setda Muna Barat ini menyebut mantan Direktur Akper Pemkab Muna, Shanty sudah gila.

Para mahasiswa berusaha mendekati Kuanto, namun berhasil dicegat oleh pihak kepolisian sehingga tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

Zalino menilai perkataan La Kuanto yang menyebut Santhy gila bukan bahasa seorang pejabat. Melainkan, bahasa pasar. Karena itu, mereka akan melakukan langkah-langkah. “Kami punya buktinya. Kita sangat tidak terima Direktur dibilangkan gila,” katanya.

Ia juga mempertanyakan, kapasitas La Kuanto saat menemui pendemo. Setahu mereka, di Pemda tidak ada namanya staf khusus bupati. “Kedatangan kami disini (Dinkes_red) untuk bertemu Kadis dan Sekretaris. Kami kaget tiba-tiba ada yang mengaku sebagai staf khusus Bupati,” heranya.

Sementara La Kuanto menerangkan, kapasitasnya menemui pendemo adalah sebagai staf khusus bupati yang ditunjuk untuk menuntaskan persoalan Akper. “Saya kesini (Dinkes, red) sebagai staf khusus bupati untuk menyelesaikan persoalan ini,” singkatnya.

Tak puas dengan penjelasan Sekretaris Dinkes, para mahasiswa kemudian melanjutkan aksinya di Gedung DPRD Muna. Di DPRD Muna, mereka ditemui oleh wakil ketua Komisi I DPRD, Awal Jaya Bolombo. Awal Jaya berjanji akan segera mengundang Dinas Kesehatan untuk memberikan penjelasannya terkait dengan keluhanan mahasiswa Akper. (rs)

Rakyat Sultra

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top