Kisah Masjid Bersejarah di Muna, Dibangun Tahun 1716, Kini Ditinggalkan Jamaah – FAJAR Sultra
News

Kisah Masjid Bersejarah di Muna, Dibangun Tahun 1716, Kini Ditinggalkan Jamaah

Masjid Al Munajat Rizalani, Kampung Lama di Muna

Islam sudah lama hadir di Tanah Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Jejaknya ada di banyak tempat. Salah satu yang-pernah-tersohor adalah Masjid Al Munajat di Tongkuno. Hikayatnya membanggakan, pesonanya digerus zaman.

Muhammad, Ery

Syahdan, tiga abad silam di Pulau Muna, bertitahlah La Ode Muhammad Abdul Rahman, raja Muna bergelar Sangia Latugho. Ia memerintahkan agar rakyat membangun sebuah masjid di pusat kota Muna, yang kala itu ada di Tongkuno. Saat dibangun, ukurannya mini untuk disebut sebagai masjid. Hanya 6X10 Meter. Konon, Islam belum lama dikenal di Muna.

Masjid yang kemudian diberi nama masjid Al Munajat itu berdiri tahun 1716. Sederhana memang, tapi masjid itu kesohor di zamannya. Bangunannya berdinding papan dengan tulisan lafal Allah dan Muhammad. Perangkat masjidnya bahkan dibentuk. “Ada imam, khatib (Khatibi Ruduano yakni khatib Tongkuno dan Lawa). Serta moji besar (moi popano) dan moji 30 (modhi tolufuluno) yang mewakili distrik kecamatan. Pembentukan perangkat didasari bahwa bakal menjadi masjid besar dan berwibawa,” urai La Ode Thaha petugas pemandu wisata Kabupaten Muna saat ditemui di kediamannya di Desa Kadolo, Kecamatan Tongkuno yang tak jauh dari kawasan masjid.

Kesederhanaan itu kemudian terpelihara hingga kemudian masuk era pemerintahan Raja La Ode Dika (1930-1938. Raja yang kemudian diberi gelar Komasigino inilah yang menginisiasi renovasi besar masjid itu. “Tapi lokasinya dipindahkan, sekira 250 meter dari lokasi sebelumnya, soalnya sempit serta ada jurang di depan masjid lama,” tambah La Ode Thaha kepada jurnalis Kendari Pos yang menyambangi kawasan itu, Rabu (14/6) sore lalu, jelang buka puasa.

Darisanalah, pemberian nama Al Munajat diberikan untuk masjid itu. Raja pun meletakkan batu pertama masjid agung yang pernah berdiri megah itu. Butuh waktu 300 tahun untuk memindahkan lokasi masjid. “Jadi memang mengalami perubahan kedudukan karena adanya pertimbangan-pertimbangan lokasi. Kalau kata nama Rizalani, itu esensi zaman dulu,”

Masjid Wuna yang lama saat ini tinggal tersisa pelataran serta makam peninggalan raja-raja di Muna, termasuk jejak pengislaman raja Muna bernama La Ode Husaini-yang diberi gelar Omputo Sangia yang pertama). Di tempat itu juga terdapat lima makam yakni kuburan La Ode Husaini (Omputo sangia), La Ode Saete (seorang Masigi), makam Wa Ode Rapo (permaisuri yang digelar Aro Watanta), serta para dayang-dayang kala itu.

Masjid Wuna ini memiliki beberapa simbol. Di sudut bangunan terdapat empat buah tiang serta satu tiang penyanggah yang berada di tengah. Lima buah tiang ini adalah simbol salat lima waktu. Tak banyak ornamen-ornamen peninggalan kerajaan sebab masjid sudah direnovasi. Namun, tak meninggalkan identitas masjid di Muna.

Kendari Pos

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top