Cuaca Ekstrim, Pesisir Sawa Diterjang Ombak 4 Meter – FAJAR Sultra
News

Cuaca Ekstrim, Pesisir Sawa Diterjang Ombak 4 Meter

Nampak salah satu gasebo di wisata pantai pudonggala Kecamatan Sawa porak poranda usai diamuk ombak setinggi empat meter. Foto:VELY SARMAN/BKK

WANGGUDU, BKK – Ombak dengan ketinggian empat meter disertai angin kencang menerjang pesisir Kecamatan Sawa Kabupaten Konawe Utara (Konut) sejak, Jumat (14/7) sore. Akibatnya, beberapa fasilitas di wisata pantai Pudonggala rusak dan nelayan enggan melaut.

Tingginya gelombang laut di wilayah ini bukan kali pertama terjadi. Setiap musim penghujan, laut di wilayah Kecamatan Sawa kerap diterjang ombak dengan ketinggian melebihi dua meter dan angin kencang. Pasalnya, wilayah pesisir ini berhadapan langsung dengan laut Banda.

Kali ini, amukan gelombang air laut berhasil merusak beberapa gasebo yang dibangun di lokasi wisata pantai Pudonggala. Tidak hanya itu, jalan yang dibangun dari beton disepanjang garis pantai pun ikut ambruk.

“Kejadiannya pada Jumat sore. Saat itu lagi hujan. Ditambah angin kencang. Kita perkirakan tinggi ombaknya empat meter,” ungkap Kepala Desa (Kades) Pudonggala, Surianto, Minggu (16/7).

Dia mengatakan, saking tingginya gelombang air laut dan kencangnya terpaan angin, beberapa pohon pun tumbang dan terseret air laut.
“Pokoknya tercabut dengan akar-akarnya. Sepertinya sudah ini ombak yang paling tinggi selama ini,” lanjut Surianto.

Untuk mengantisipasi adanya gelombang susulan, masyarakat bersama-sama memindahkan gasebo yang masih berdiri kokoh. Hal ini dikatakan Surianto dilakukan untuk meminimalisir kerusakan.

“Ini bukan pertama kali. Sebelumnya sudah pernah kita pindahkan gasebo-gasebo yang ada disini. Tapi ternyata sekarang masih dijangkau ombak. Akhirnya sekarang kita kasi mundur lagi menjauhi pantai,” ujarnya.

Terpisah, Kades Pekaroa, Nurianto mengatakan, akibat tingginya gelombang air laut yang menerjang pesisir kecamatan Sawa belakangan ini mengakibatkan warganya enggan melaut. Padahal, sebagian besar masyarakatnya merupakan pelaut alias nelayan.

“Kita kan daerah pesisir rata-rata mencari di laut. Tapi sekarang tidak ada lagi yang berani melaut karena cuaca yang tidak bersahabat. Jadi untuk sekarang ini masyarakat saya mencari alternatif lain seperti menggali batu gunung atau pekerjaan lain,” terang Nurianto.

Menurut dia, wilayah pesisir Sawa memang kerap jadi langganan amukan ombak. Hal itu terjadi ketika musim timur tiba. Pada musim itu, cuaca sangat ekstrim bagi nelayan. Ketinggian gelombang air laut bisa melebihi dua meter. Dirinya pun berharap agar masyarakat mengurangi aktifitas di pantai untuk menghindari resiko.

“Wajar karena kita langsung berhadapan dengan laut lepas yaitu laut Banda. Saya perkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga Agustus mengambil pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya,” (cr12/nur)

Berita Kota Kendari

loading...
Click to comment

Most Popular

To Top