Tangkal Radikalisme, Polda Sultra Bersama NU dan UHO Tandatangani MoU

Rabu, 24 Maret 2021 10:36

SULTRA.FAJAR.CO.ID, KENDARI — Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra), Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka mencegah berkembangnya paham dan gerakan radikalisme di Provinsi Sulawesi Tenggara. kegiatan Penandatanganan MoU ini dilaksanakan disalah satu hotel di Kota Kendari, Rabu (24/3/2021).

Kegiatan ini dihadiri oleh Dir Intelkam Polda Sultra Kombes Pol Suswanto, Ketua PWNU Sultra KH Muslim dan Rektor UHO Muhammad Zamrun Firihu.

Ketua Pimpinan Wilayah Nahdatul Ulama ( PWNU) Sulawesi Tenggara (Sultra), K.H. Muslim menyampaikan bahwa MOU kerja sama tersebut dilakukan agar tak ada kelompok atau individu yang menodai ajaran agama bahkan mengguncang keamanan negara.

“Ini tidak bisa kita lakukan sendiri-sendiri, harus secara bersama-sama sebagai bentuk sinergitas kita sebagai anak bangsa,” harapnya.

Lanjut KH Muslim, bahwa banyaknya informasi hoax yang tidak berlandaskan hukum yang diperoleh masyarakat bisa membahayakan ketentraman kita sebagai warga negara jika tak dipahami dengan baik dan bijak terutama informasi yang berasal dari media sosial.

Sementara itu, Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Muhammad Zamrun Firihu menyampaikan bahwa adanya kolaborasi antara PWNU, UHO, dan Polda Sultra diharapkan bisa mencegah tindakan sekelompok orang yang berdampak pada munculnya gerakan radikalisme.

“Ini baru awal. Saat ini kita baru memulai kerja sama ini dengan 3 instansi tetapi ke depannya semoga semua pihak baik Pemda, TNI dan elemen lainnya bisa bersama-sama,” ujarnya.

Bahkan menurutnya, kegiatan pencegahan radikalisme sudah lama dilakukan di kampus UHO tersebut dengan berbagai agenda seminar, sosialisasi akan bahayanya paham Radikalisme.

Senada dengan itu, Dir Intelkam Polda Sultra, Kombes Suswanto menyampaikan bahwa gerakan sekelompok orang yang berdampak pada ketidaknyamanan masyarakat akan menjadi target dan sasaran mereka untuk melakukan pengamanan tetapi dengan langkah-langkah edukasi dan pendekatan persuasif lebih dulu.

Karena dikhawatirkan, jika situasi dan kondisi tersebut tidak terkendali bisa berdampak pada munculnya isu SARA di Provinsi Sulawesi Tenggara yang kita cintai ini dan Indonesia. Maka dari itu pihaknya bakal melibatkan dan mengajak seluruh pemuka adat dan seluruh stakeholder agar bisa dan dapat bersama-sama memberantas bahaya radikalisme di Bumi Anoa ini.

“Dalam waktu dekat ini, insya Allah minggu depan kita akan mengagendakan kegiatan komunikasi sosial dengan para pemangku adat di Sultra. Tujuannya agar terjalin komunikasi sesama para pemangku adat sehingga dapat tercipta kerukunan antar suku di daerah yang sangat kita cintai ini,”pungkasnya. (ismar/FNN)

Komentar

VIDEO TERKINI