Warga Koltim Bakar Seribu Lilin Mengenang Almarhum Samsul Bahri Sebagai Tokoh Pemersatu

Senin, 5 April 2021 03:57

Masyarakat saat pembakaran 1.000 lilin mengenang almarhum bupati Samsul Bahri. Foto: Iwal/Rakyat Sultra.

SULTRA.FAJAR.CO.ID, KOLAKA TIMUR – Meski sudah dua pekan setelah meninggalnya Bupati Kolaka Timur (Koltim), Samsul Bahri, namun duka masyarakat belum juga hilang.

Bertempat di Lapangan Latamoro, Kecamatan Tirawuta, Jumat malam (02/04/2021), masyarakat berkumpul untuk mengenang almarhum.

Masyarakat pun mengundang beberapa nama besar, antara lain Plt. Bupati, Andi Merya, Ketua TP-PKK, Diana Samsul Bahri, Wakil Ketua DPRD, Rahmatia Lukman, sejumlah tokoh pemekaran, dan tokoh masyarakat Koltim.

Dalam acara itu, warga dari berbagai wilayah kecamatan, datang dengan mengenakan baju dan celana warna hitam. Awalnya masyarakat disuguhi dengan ceramah Islamiah, sekaligus memberikan semangat kepada keluarga almarhum bupati.

Hingga tiba saatnya puncak acara, pembakaran 1.000 lilin oleh masyarakat sebagai bentuk cinta terhadap almarhum bupati.

Seluruh cahaya dipadamkan, hanya tersisa cahaya lilin saja, disertai dengan pembacaan puisi dan pemutaran video kebersamaan mendiang Samsul bersama masyarakat.

Pantauan Rakyat Sultra (fajar grup) di lapangan, pembakaran lilin itu membuat suasana menjadi sedu, disertai deraian air mata, baik dari keluarga, tamu undangan, maupun masyarakat sebagai penyelenggara acara.

Istri almarhum bupati, Diana Samsul Bahri dalam sambutannya, hampir tak bisa berbicara karena isak sedih. Ia mengungkapkan, Lapangan Latamoro menjadi saksi bisu atas kepergian mendiang suaminya.

“Disitu, di tengah lapangan, ia tersungkur jatuh. Walaupun ia sudah lelah, tapi tetap semangat bermain sepak bola demi menghibur masyarakat,” ucap Diana sembari menunjuk di tempat jatuhnya almarhum Samsul Bahri.

Lanjutnya, Samsul Bahri meninggal dunia disaat masyarakat baru saja merayakan kemenangan. Masyarakat begitu sayang kepadanya. Ucapan selamat karena terpilih sebagai bupati, masih terpampang di halaman rumah, tiba-tiba datang ucapan turut berduka cita.

Diana berharap, kepergian suaminya tidak membuat masyarakat bercerai-berai. Semangat kaum milenial dalam membangun daerah selalu dipelihara. Kekompakan wajib dijaga, sebab semangat pemersatu bupati Samsul Bahri tetap harus dirawat.

“Jangan ada yang sudah bubar, masih ada bupati kita Andi Merya, kita doakan beliau sehat dan kuat untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita SBM. Masih ada orang tua kita semua, masih ada partai pendukung, dan masih ada saya juga,” tutup Diana Samsul Bahri.

Sementara itu, Plt. Bupati, Andi Merya mengatakan, Samsul Bahri merupakan tokoh pemersatu dari banyaknya suku dan agama di Koltim.

Almarhum begitu dekat dengan masyarakat tanpa memandang latar belakangnya. Hingga saat ini pun duka belum juga hilang karena begitu cintanya masyarakat kepada Samsul Bahri.

“Meskipun beliau tidak ada, tapi amanah dan mimpi beliau wajib kita tunaikan dan wujudkan. Kepada semuanya tolong ingatkan saya, marahi dan koreksi jika saya lalai terhadap komitmen. Tidak ada yg berubah, tetap Samsul bersama Merya,” ucapnya.

Beberapa tokoh juga mengakui Samsul Bahri sebagai pemersatu. Antara lain, I Made Mardi, perwakilan suku Bali, mengenang almarhum sebagai pemimpin spesial. Dalam beberapa momen, Samsul selalu menyambangi masyarakat dalam kegiatan adat Bali.

Kemudian Bambang dari suku Jawa, melihat Samsul Bahri sebagai pemimpin yang lengkap dari segi bibit, bebet, dan bobotnya. Ia yang bukan masyarakat Sulawesi pun, tak canggung untuk meneriakkan kata “ewako” karena merasa sudah sehati dengan Samsul.

Salah satu pedagang pasar di Ladongi, Umar menceritakan, saat Pilkada lalu, ia bersama puluhan rekannya, ikhlas membantu Samsul Bahri tanpa imbalan apapun, karena yakin dengan figur SBM yang mampu membawa perubahan daerah, termasuk dibidang peningkatan ekonomi.

Dari kalangan politikus, beberapa dari mereka bersaksi bahwa figur Samsul Bahri begitu dicintai masyarakat. Antata lain, Hj. Murni dari PDIP, bercerita saat mengunjungi Kecamatan Uluiwoi dan Ueesi dimasa kampanye Pilkada lalu, masyarakat selalu menyambut almarhum dengan air mata bahagia.

“Mereka dari dalam rumah dan lorong-lorong semua keluar. Mereka merindukan pemimpinnya. Betapa tulus hati mereka, mau membantu, sementara kami tdk punya banyak uang,” ucap Murni.

Politikus lain, Bahrul yang juga bagian dari koalisi SBM, mengaku kaget saat ajang Pilkada 2020 lalu. Mereka selalu disambut meriah di seluruh wilayah Koltim. Mobil yang ditumpangi Samsul dan Merya selalu dihadang masyarakat yang sangat mencintai pemimpinnya.

“Jujur saja kemarin itu kami tidak punya apa-apa. Kami sebenarnya terbantu dengan gerakan arus bawah,” ucap Bahrul.

Wakil Ketua DPRD Koltim, Rahmatia Lukman, mengungkapkan, dukungannya kepada SBM bukan tanpa alasan. Samsul Bahri saat menjabat sebagai Camat Tirawuta, merupakan sosok yang begitu dekat dengan rakyatnya.

“Seperti tidak ada jarak dengan masyarakat, meskipun waktu itu ia bukan politisi. Jadi ini menjadi alasan kami dari PAN mendukung SBM. Saya doakan semoga almarhum diterima disisi Allah. Kami tidak akan melupakan almarhum,” tutup Rahmatia Lukman. (rakyatsultra/fajar)

Komentar

VIDEO TERKINI