Gara-gara Cuaca Ekstrem, Nelayan Pilih Tak Melaut

Rabu, 3 Februari 2021 11:32

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID — Sebagian besar nelayan pesisir Selatan Cilacap memutuskan untuk tidak berangkat melaut mencari ikan, setelah muncul imbauan potensi dampak perubahan iklim atau cuaca ekstrem.

Ketua Nelayan Pandanarang Kecamatan Cilacap Selatan, Tarmuji mengungkapkan, munculnya peringatan terkait dampak perubahan iklim oleh BMKG, sebagai bentuk antisipasi hal yang tidak diinginkan, mayoritas nelayan, khususnya di Pandarang memilih tidak berangkat mencari ikan atau udang.

“Lusa lalu memang ada imbauan tetapi belum begitu tegas, tetapi begitu kemarin (Selasa, red) BMKG mengeluarkan informasi kaitannya perubahan iklim, nelayan memilih standby dan tidak berangkat,” katanya seperti dikutip dari Radar Banyumas (Fajar Grup), Selasa (2/2/2021).

Meski demikian, tetap ada sejumlah nelayan yang tetap berangkat melaut, hanya mereka tidak berani melaut terlalu jauh dari jarak pesisir.

“Tidak berani melaut terlalu jauh, kalau berangkat ya paling berapa mil dari daratan. Itu pun mereka melaut karena memang ada kebutuhan,” pungkasnya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidhy mengatakan, angin kencang yang terjadi sepekan terakhir, juga telah memporakporandakan sepuluh rumah di Desa Dondong Kecamatan Kesugihan, tepatnya di Dusun Bugel RT 03 RT 04 dan RT 05 RW 03, Minggu sore lalu. “Hujan deras dan angin kencang mengakibatkan 10 rumah atapnya hancur,” kata Tri.

Akibat kejadian tersebut tercatat 52 lembar asbes dengan 26 ukuran panjang 210 centimeter dan 25 lembar asbes berukuran 150 cm hancur. Juga sembilan rumah lainya yang rata-rata satu rumah kerugiannya mencapai 10 lembar asbes berukuran 90 cm. “Jumlah kerugian 10 rumah dan material lainnya ditaksir mencapai Rp 25 juta,” pungkas Tri.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Rendi Kurniawan mengatakan, gelombang cukup tinggi antara 4 hingga 6 meter masih berpeluang terjadi di perairan selatan Cilacap hingga Samudra Hindia selatan Cilacap sejak Selasa (2/2) hingga Kamis (4/2).

Ini karena pola angin Indonesia bagian utara pada umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan angin berkisar 4 hingga 25 knot.

Selain gelombang tinggi, bencana Hidrometeorologi dengan hujan ekstrem sangat berpotensi menimbulkan dampak bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor serta hujan lebat disertai kilat/petir yang dapat membahayakan bagi publik.

Kepada masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang menyebabkan terjadinya potensi bencana hidrometeorologi, terutama untuk masyarakat yang berada dan tinggal di wilayah rawan bencana,” pungkasnya. (fin)

Komentar

VIDEO TERKINI