Olahraga Beladiri Tapak Suci Mendunia, Ini Bukti Sesepuh Kita Merawat Budaya Bangsa Indonesia

Jumat, 6 Agustus 2021 15:56

SULTRA.FAJAR.CO.ID, KENDARI – Ketua Pimpinan Daerah (PD) 113 Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah Kota Kendari Adyansyah menanggapi perihal perkembangan Tapak Suci yang sudah mendunia.

Dalam penjelasannya, terbukti sudah perjuangan para sesepuh kita dahulu, do’a dan perjuangan merekalah, sehingga saat ini Tapak Suci sudah dikenal sampai dikancah internasional seperti Aljazair, Timor Leste, Singapura, Mesir, Taiwan, Pakistan, Jerman, Uganda, Maroko, Thailand, Lebanon, Sudan,Palestina dan masih ada dinegara lainnya.

“Bahwa selaku generasi dimasa saat ini sangat bangga dan terharu dengan mendunianya beladiri tapak suci tersebut, hal yang harus disadari juga oleh generasi sekarang bahwa perjuangan para sesepuh dan pendekar-pendekar besar dahulu lebih sulit dibanding dengan perjuangan generasi sekarang ini,”ungkapnya.

Lanjutnya, Para sesepuh dahulu berhasil merawat budaya indonesia dalam dunia beladiri pencak silat, diindonesia memiliki banyak macam budaya dengan keunikan-keunikan tersendiri, ada budaya Kasada “Bromo” Karapan Sapi “Madura” Debus “Banten” dan masih banyak budaya-budaya lainnya yang lebih unik, begitu pula budaya yang dirawat oleh sesepuh kita yaitu perguruan beladiri pencak silat.

Kemudian katanya lagi, Saya ulas kembali awal mulanya lahir Tapak Suci ini agar generasi sekarang dan yang akan datang tidak kalah semangat dalam membesarkan tapak suci dimuka bumi ini, budaya yang unik dan sangat diminati banyak orang dan bahkan sampai mendunia,

“Sebelum berdirinya tapak suci di Tahun 1872, di Banjarnegara lahir seorang putera dari K.H.Syuhada, yang kemudian diberi nama Ibrahim, Ibrahim kecil memiliki karakter yang berani dan tangguh sehingga disegani oleh kawan-kawannya. Ibrahim belajar pencak dan kelak menginjak usia remaja telah menunjukkan ketangkasan pencak silatnya, Setelah menjadi buronan Belanda, Ibrahim berkelana hingga sampai ke Betawi, dan selanjutnya ke Tanah Suci,” ujarnya.

Sambungnya lagi, bahwa sekembalinya dari Tanah Suci menikah dengan puteri K.H.Ali Ibrahim kemudian mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara, Sepulang dari ibadah haji, Ibrahim masih menjadi buronan Belanda, sehingga kemudian berganti nama menjadi KH.Busyro Syuhada, Pondok Pesantren Binorong berkembang pesat diantara santri-santrinya ialah Achyat adik Misan Ibrahim, M. Yasin adik kandung dan Soedirman yang kelak menjadi Jenderal Besar yaitu Jenderal Sudirman.

“Tahun 1921 dalam konferensi Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, KH. Busyro bertemu pertama kali dengan dua kakak beradik ; A.Dimyati dan M.Wahib. Diawali dengan adu kaweruh antara M.Wahib dengan Achyat (kelak berganti nama menjadi H. Burhan), selanjutnya kedua kakak beradik ini mengangkat KH. Busyro sebagai Guru,”tuturnya.

Jadi kata dia lagi, Kelahiran Tapak Suci Atas desakan murid-murid Perguruan Kasegu kepada Pendekar Moh. Barrie Irsyad, untuk mendirikan satu perguruan yang mengabungkan perguruan yang Sejalur (Cikauman, Seranoman dan Kesegu). Perguruan Tapak Suci berdiri pada tanggal 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta. Ketua Umum pertama Tapak Suci adalah H.Djarnawi Hadikusumo.

“Sangat panjang jika kita kupas tuntas sejarah tapak suci,namun hal yang paling penting adalah kita sebagai generasi sekarang ini harus lebih semangat besarkan tapak suci, lebih khusus di Sulawesi Tenggara yang dikenal sebagai daerah yang jumlah penduduknya lumayan banyak mencapai 2,62 Juta Jiwa hasil sensus tahun 2020,” jelasnya.

“Seharusnya di Sultra adalah kesempatan kita membesarkan Tapak Suci, salah satu ortom Muhammadiyah yang sepatutnya didukung penuh oleh induknya, dengan gerakan bergerak bersama adalah cara terbaik besarkan budaya pencak silat ini,” pungkasnya.(ismar/FNN)

Komentar

VIDEO TERKINI